Isu Tapering Mendera, IHSG Merah di Sesi 1 tapi Asing Net Buy

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
04 June 2021 11:55
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkapar di zona merah pada penutupan perdagangan sesi pertama Jumat (4/6/2021), menyusul munculnya kekhawatiran bakal munculnya pengetatan moneter Amerika Serikat (AS) yang bisa memicu capital outflow.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia, IHSG berakhir di level 6.058,42 atau tertekan 33,1 poin (-0,54%). Meski demikian, level penutupan tersebut menunjukkan pola pembalikan yang dimulai sejak pukul 11:00 WIB, setelah IHSG meninggalkan level terendah yang disentuh pada 6.091,13.

Indeks acuan bursa ini dibuka melemah 0,01% ke 6.091,13 pada menit pertama perdagangan. Selanjutnya, IHSG menguat dan sempat menembus level tertinggi hari ini pada 6.103,859 yang disentuh 20 menit setelah pembukaan.


Nilai transaksi bursa masih suam-suam kuku dengan total Rp 6,4 triliun yang melibatkan 11 miliaran saham berpindah tangan 722.000-an kali. Sebanyak 201 saham naik, 279 melemah dan 160 sisanya stagnan.

Kekhawatiran mengenai isu tapering, atau pengurangan pembelian obligasi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) di pasar, kembali muncul setelah Presiden The Fed Philadelphia Patrick Harker mengatakan kini waktu yang tepat untuk memikirkan mengenai pengurangan kebijakan pelonggaran kuantitas (quantiative easing/QE).

Secara bersamaan, ADP melaporkan penyerapan tenaga kerja baru AS per Mei mencapai 978.000, atau jauh lebih baik dari ekspektasi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 680.000. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa tapering bisa segera terjadi dan memicu pembalikan modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di tengah kekalutan tersebut, investor asing mengambil kesempatan dengan membukukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 215,9 miliar di pasar reguler. Secara total di seluruh pasar (termasuk pasar tunai dan negosiasi), nilai pembelian bersih mereka mencapai Rp 254,5 miliar.

Saham yang mereka buru terutama adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan nilai pembelian masing-masing sebesar Rp 135,9 miliar dan Rp 35,9 miliar. Kedua saham bank pelat merah tersebut kompak melemah masing-masing sebesar 0,7% dan 1,6% menjadi Rp 4.330 dan Rp 6.150/saham.

Sebaliknya, saham dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menjadi sasaran utama aksi jual asing, dengan nilai penjualan bersih (net sell) masing-masing sebesar Rp 24,8 miliar dan Rp 16,1 miliar.

Saham emiten menara utilitas infrastruktur tersebut bergerak berlawanan arah, dengan penguatan PGAS sebesar 0,4% atau 5 perak menjadi Rp 1.185/unit, sementara saham TOWR anjlok 3,15% atau 40 poin ke Rp 1.230/unit.

Kejutan muncul dari PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) yang pada hari ini menduduki posisi sebagai saham dengan nilai transaksi terbesar, dengan total nilai Rp 371,4 miliar. Saham BBRI menyusul, dengan nilai transaksi Rp 315,8 miliar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading