Apes Banget Kalau Beli Saham-saham Ini, Seminggu Drop 25%

Market - Tirta, CNBC Indonesia
29 May 2021 19:40
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham yang harganya melesat tajam dalam waktu singkat kini harus merasakan gempuran Auto Reject Bawah (ARB) secara berjilid-jilid dan menjadi penghuni top losers

Investor terutama pemula dan ritel harus lebih berhati-hati dalam membeli saham. Jangan keburu senang dulu ketika suatu saham harganya naik signifikan dalam waktu singkat. Apalagi jika kenaikan harga tak diikuti dengan perbaikan fundamental yang jelas atau bahkan menjauhi valuasi wajarnya. 

Saham-saham yang sebelumnya tak likuid atau ditransaksikan dengan volume kecil seringkali masuk wajan penggorengan bandar alias market maker. Investor maupun trader yang keburu nafsu sering kena jebakan dan harus merasakan pedihnya membeli di 'pucuk' lalu dibanting. 

Lima saham berikut ini menjadi salah satu contoh yang nyata. Berikut CNBC Indonesia rangkumkan untuk pembaca. 

1. PT Indosterling Technomedia Tbk (TECH)

Di awal tahun harga saham TECH masih di kisaran Rp 900/lembar. Hanya dalam 4 hari perdagangan harga saham naik menjadi Rp 2.220/lembar. Hanya dalam waktu singkat nilai kapitalisasi pasar perusahaan yang bergerak di bidang IT ini melesat 147%. 

Kenaikan harga saham yang tak wajar membuat otoritas bursa memutuskan untuk menggembok perdagangan saham ini pada 11 Januari lalu. Perdagangan baru dibuka akhir pekan lalu (21/5/2021). Harga saham TECH langsung kena ARB. Setelah itu saham ini dirundung ARB berjilid-jilid hingga harganya turun hampir 25% sepekan. 

Sebelum memasuki awal tahun 2021, harga saham TECH sudah naik fantastis. Akhir November 2020 satu lembar saham TECH masih ditransaksikan di harga Rp 127. Namun harga terus terbang sampai lebih dari 6x lipat sampai akhir tahun yang membuat BEI sempat memberlakukan suspensi terhadap perdagangan saham ini dua kali.

Karena membandel dan harganya terus terbang, BEI untuk ketiga kalinya menghentikan sementara perdagangan saham ini. Empat bulan lebih perdagangan dihentikan sekarang saham ini anjlok terus menerus. 

2. PT Baramulti Sukses Sarana Tbk (BSSR)

Untuk kasus kedua adalah saham BSSR yang perusahaannya bergerak di sektor tambang batu bara. Kenaikan harga batu bara yang fantastis hingga tembus US$ 100/ton memang menjadi katalis positif untuk harga saham emiten tambang, tak terkecuali BSSR. 

Sebelum ambles 24% di minggu ini, harga saham BSSR sempat terbang dibarengi dengan kenaikan volume transaksi. Tercatat sejak 6 - 20 Mei atau kurun waktu dua minggu harga saham BSSR telah naik 61%. 

Transaksi saham BSSR yang sebelumnya sepi karena diperjualbelikan kurang dari 100 lot tiba-tiba naik menjadi ratusan lot dan terakhir saat harganya mencapai pucuk tercatat ada lebih dari 11 ribu lot saham ini yang berpindah tangan. 

Kini saham BSSR sudah masuk periode koreksinya. Setelah terkena gempuran ARB berjilid-jilid harga saham BSSR turun menjadi Rp 1.715/lembar dari sebelumnya Rp 2.440/lembar. 

3. PT Lionmesh Prima Tbk (LMSH)

Kenaikan harga yang tak wajar juga membuat BEI mengunci perdagangan saham emiten baja yang satu ini. Setelah sehari disuspensi, perdagangan dibuka kembali. Harga sempat melesat signifikan sebelum akhirnya dibanting dan kena gelombang ARB. 

Saham LMSH juga tak likuid. Pada 5 Mei tak ada transaksi yang tercatat dan harganya stagnan di Rp 350/lembar. Namun setelah itu volume transaksi meningkat tajam dan harganya naik sampai 316% hanya dalam kurun waktu dua minggu. 

Bagi seorang yang membelinya di harga pucuk maka kerugian yang diderita mencapai 24% sendiri.

4. PT ICTSI Jasa Prima Tbk (KARW)

Harga saham perusahaan manufaktur pakaian ini memiliki volatilitas harian yang tinggi. Sejak pertengahan April transaksi saham dengan kapitalisasi pasar kurang dari Rp 1 triliun ini tiba-tiba menjadi ramai dan diikuti dengan kenaikan harga. 

Harga saham yang sebelumnya mendekati level terendah yang diperbolehkan oleh bursa di pasar sekunder yaitu gocap tiba-tiba melesat hampir tiga kali lipat dalam kurun waktu satu bulan. 

Setelah bergerak liar, harga saham ini juga mengalami nasib yang sama dengan saham-saham sebelumnya yaitu ambles. Dalam sepekan nilai kapitalisasi pasar KARW telah tergerus hampir 20%. 

5. PT Temas Tbk (TMAS)

Terakhir yang menjadi penghuni club top losers pekan ini ada emiten perkapalan yaitu TMAS. Kapitalisasi pasar TMAS jeblok 19,4% dibandingkan dengan akhir pekan lalu. Polanya pun sama. Ada kenaikan volume transaksi secara signifikan dan tiba-tiba yang membuat harganya terbang. 

Pada 17 Mei harga satu lembar saham TMAS masih di Rp 174. Empat hari berselang harganya ngamuk dan tembus Rp 360/lembar pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Bahkan dalam perdagangan intraday akhir minggu lalu harga sempat menyentuh level Rp 430/lembar sebelum berakhir dibanting. 

Itulah tadi saham-saham yang harganya naik signifikan dalam waktu singkat, tetapi langsung drop parah setelahnya.

NamaKodeLast WeekThis WeekChange (%)
Indosterling Technomedia TbkTECH22201670-24.8%
Baramulti Suksessarana TbkBSSR22701715-24.4%
Lionmesh Prima TbkLMSH13551025-24.4%
ICTSI Jasa Prima TbkKARW148119-19.6%
Temas TbkTMAS360290-19.4%

[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dear Sobat Cuan, Cek Dulu Top Gainers & Losers Sepanjang 2020


(twg/twg)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading