Asing Masuk Pasar Keuangan RI, Harga SBN Ikut Menguat

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
28 May 2021 19:05
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup menguat pada perdagangan Jumat (28/5/2021) karena masuknya dana asing ke pasar keuangan Indonesia, termasuk obligasi pemerintah pada hari ini.

Mayoritas SBN acuan kembali ramai dikoleksi oleh investor pada hari ini, ditandai dengan penurunan imbal hasil (yield). Hanya SBN bertenor 5 tahun yang hari ini cenderung dilepas oleh investor dan mengalami kenaikan yield. Yield SBN berjatuh tempo 5 tahun dengan seri FR0081 naik sebesar 3,3 basis poin (bp) ke level 4,876%, dari sebelumnya di level 4,891% pada perdagangan kemarin.

Sedangkan, yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara kembali turun sebesar 1,9 bp ke posisi 6,426%, dari sebelumnya di level 6,445% pada perdagangan kemarin.


Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Asing kembali mempercayai pasar keuangan RI pada hari ini. Di pasar saham, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 343 miliar di pasar reguler, dan sekitar Rp 1,3 triliun di pasar nego dan tunai.

Selain berdampak ke pasar saham dan pasar obligasi, capital inflow asing juga membuat mata uang rupiah mendapat tenaga untuk melawan dolar Amerika Serikat (AS).

Walaupun obligasi dalam negeri secara mayoritas mengalami penguatan harga, namun di AS, obligasi pemerintah (Treasury) kembali mengalami pelemahan harga dan kenaikan yield. Berdasarkan data dari CNBC International, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun naik sebesar 2,6 basis poin ke level 1,615% pada pukul 04:20 waktu AS.

Kenaikan ini disebabkan oleh data klaim pengangguran mingguan yang diajukan pada pekan lalu lebih rendah dari yang diharapkan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan ada 406.000 klaim pengangguran pada awal pekan lalu, di bawah 425.000 yang diperkirakan oleh ekonom yang disurvei oleh Dow Jones.

Data pengangguran telah dipantau secara ketat oleh investor, mengingat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sedang mengupayakan pemulihan yang lebih penuh di pasar tenaga kerja sebelum mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter.

Pasar juga mengawasi data inflasi AS, karena The Fed mengatakan akan membiarkannya berjalan lebih panas, dengan alasan bahwa kenaikan inflasi tersebut hanya bersifat sementara.

Investor global pada hari ini akan memantau rilis data belanja (budget) AS untuk tahun fiskal 2022, dimana angkanya diperkirakan akan mencapai US$ 6 triliun dan akan menjadi pengeluaran federal terbesar sejak Perang Dunia Kedua apabila berhasil disetujui, meskipun kecil kemungkinannya karena kontrol demokrat yang lemah di Kongres.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading