Investor Khawatir Covid-19 RI Melonjak, Harga SBN Menguat

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
27 May 2021 18:38
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup menguat pada perdagangan Kamis (27/5/2021), di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) jelang rilis data ketenagakerjaan yang bakal menjadi indikator pemulihan ekonomi Negeri Sam tersebut.

Mayoritas SBN acuan kembali ramai dikoleksi oleh investor pada hari ini, ditandai dengan penurunan yield-nya. Hanya SBN berjangka menengah, yakni SBN bertenor 5 tahun, 10 tahun, dan 15 tahun yang hari ini cenderung dilepas oleh investor dan mengalami kenaikan yield.

Yield SBN 5 tahun dengan seri FR0081 naik 0,6 basis poin (bp) ke 5,415%. Sedangkan yield SBN bertenor 15 tahun dengan kode FR0088 juga naik 2,6 bp ke 6,357%. Sementara itu, yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara juga bertambah, sebesar 0,4 bp, ke 6,445%, dari sebelumnya 6,441%. 


Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Dari Negeri Paman Sam, yield obligasi pemerintah AS (Treasury) acuan kembali mengalami kenaikan. Dilansir data dari CNBC International, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun naik sebesar 1,5 basis poin ke level 1,589% pada pukul 04:30 waktu AS.

Departemen Tenaga Kerja AS akan mempublikasikan data klaim pengangguran mingguan baru yang diajukan pekan lalu pada pukul 08:30, Kamis (27/5/2021) pagi hari waktu AS.

Ekonom dalam survey Dow Jones mengestimasikan bahwa pada pekan lalu ada 425.000 pengangguran baru yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran atau lebih rendah dari klaim sepekan sebelumnya yang mencetak level terendah di era pandemi sebesar 444.000.

Investor akan mengamati data pekerjaan tersebut dengan cermat, karena bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengatakan akan menunggu pemulihan yang lebih penuh di pasar tenaga kerja sebelum melakukan pengurangan pembelian obligasi dan menaikkan suku bunga.

Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Sri Mulyani cukup optimistis dengan prospek pertumbuhan ekonomi RI. Bahkan sebelumnya mengatakan pada kuartal I-2021, ekonomi Indonesia akan tumbuh hingga 8%.

Dia mengatakan, sinyal pemulihan ekonomi ditunjukkan dengan kembalinya tingkat kepercayaan masyarakat ke level optimis pada angka 101,5. Angka ini jauh melampaui periode awal pandemi sejalan dengan tren mobilitas masyarakat yang mengalami peningkatan secara konsisten sejak bulan April.

Meskipun demikian, ketakutan di pasar modal lokal yang utama dan terutama tentu saja masih ditimbulkan oleh virus corona (Covid-19), dimana ditakutkan dalam minggu-minggu ke depan akan terjadi ledakan kasus Covid-19 akibat arus balik mudik Idul Fitri pekan lalu.

Kasus Covid-19 di Indonesia sendiri masih fluktuatif dimana tercatat ada penambahan 5.034 kasus pada Rabu (26/5). Naik dibandingkan dengan pertengahan Mei dimana saat itu tambahan kasus corona per hari sempat turun ke level 2000-3000an kasus per hari.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Rabu (26/5/2021) hingga pukul 12.00 WIB, total kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 1,79 juta di tengah ketakutan akan ledakan penularan pasca libur Lebaran.

Kekhawatiran investor akan potensi melonjaknya kasus Covid-19 di RI membuat investor tersebut cenderung kembali memburu aset safe haven, seperti SBN sehingga menyebabkan yield SBN kembali turun dan harganya menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading