Bitcoin Cs Terjun Bebas, Begini Ramalan Masa Depan Kripto

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
23 May 2021 20:47
Gambar Cover, Cryptocurrency Ambrol

Jakarta, CNBC Indonesia - Tingginya volatlitas transaksi aset kripto belakangan ini menjadi sumber ketidakpastian bagi para investor yang berinvestasi di instrumen ini. Puncaknya, pada Rabu kemarin, nilai kapitalisasi pasar aset kripto ambles dari sebelumnya US$ 2,5 triliun menjadi US$ 1 triliun.

Senior Editor CNN Business, Allison Morrow, dalam laporannya menyebutkan, saking tingginya volatilitas transaksi ini, ia mengibaratkan pengalaman berinvestasi kripto laiknya membeli tiket ke 'sirkus' kripto.

"Volatilitas minggu lalu cukup untuk membuat beberapa pengikut kripto bertanya-tanya apakah mereka telah diperdaya," kata Allison, dikutip Minggu (23/5/2021).


Bitcoin misalnya, yang menyumbang lebih dari 40% pasar kripto global, turun 30% menjadi $ 30.000 pada hari Rabu mencapai titik terendah sejak Januari. Namun, pada Jumat, bitcoin telah pulih sedikit, menjadi sekitar $ 37.000. Padahal, sebulan sebelumnya, bitcoin pernah mencapai level tertingginya di atas US$ 64.000.

Ia menduga, volatilitas pasar cryptocurrency yang cukup agresif ini disebabkan pertumbuhan eksplosif aset digital di tahun lalu telah menarik gerombolan investor amatir dan profesional yang mencari keuntungan dengan cepat.

"Banyak dari mereka naik dan keluar, atau panik menjual ketika keadaan berubah buruk, memperburuk keuntungan atau kerugian," ujarnya.

Selain itu, pekan ini ada beberapa sentimen negatif yang menekan aset kripto, antara lain, peringatan pemerintah seperti di China dan AS tentang tingginya risiko berinvestasi aset kripto dan kicauan dari penggerak pasar berpengaruh seperti Elon Musk, CEO Tesla, kian menambahkan 'bahan bakar' ke pasar yang sudah gelisah.

Selain itu, Elon Musk juga menarik kembali komitmen Tesla untuk menerima bitcoin sebagai pembayaran, mengutip kekhawatiran atas jejak karbon besar-besaran crytocurrency. Ini menambah kecemasan investor akhir pekan lalu dengan cuitannya yang tampaknya kontradiktif tentang bitcoin yang membuat investor menggaruk-garuk kepala.

Kemudian kehancuran besar terjadi pada hari Rabu, setelah pejabat China mengisyaratkan tindakan keras terhadap penggunaan crypto di negara tersebut. Bank sentral mengeluarkan peringatan kepada lembaga keuangan dan bisnis China untuk tidak menerima mata uang digital sebagai pembayaran atau menawarkan layanan yang menggunakannya.

Ancaman peningkatan regulasi memicu kepanikan, dan Bitcoin jatuh sebelum rebound sedikit dan naik level. Cryptocurrency lainnya juga merosot: Ethereum turun lebih dari 40%, sementara dogecoin dan binance kehilangan sekitar 30%.

Bukan hanya di China, Ketua Federal Reserve Jerome Powell memperingatkan tentang potensi risiko cryptocurrency terhadap sistem keuangan. Powell juga mengatakan bank sentral akan menerbitkan makalah musim panas ini yang akan mengeksplorasi implikasi dari pemerintah AS yang mengembangkan mata uang digitalnya sendiri.

"Mata uang digital bank sentral potensial dapat berfungsi sebagai pelengkap, dan bukan pengganti, uang tunai dan bentuk digital sektor swasta saat ini dari dolar, seperti deposito di bank komersial," kata Powell.

Bagaimana Masa Depan Kripto?

Vitalik Buterin, pencipta koin digital Ethereum, harus merelakan sebagian besar kekayaan pribadinya yang hilang akibat jatuhnya kripto, termasuk Ethereum.

Ia mengatakan kepada CNN Business dalam sebuah wawancara eksklusif pada Selasa (18/5/2021) pagi bahwa dia yakin cryptocurrency sedang terjadi bubble. Dia menekankan, bagaimanapun, bahwa sangat sulit untuk memprediksi kapan bubble di kripto akan muncul.

"Bisa saja sudah berakhir, namun bisa juga belum berakhir, atau parahnya bisa berakhir berbulan-bulan dari sekarang." kata Buterin kepada CNN Business.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading