Discovery Merger dengan Warner Bros, Dow Jones Dibuka Melemah

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
17 May 2021 20:50
Final numbers for the Dow Jones industrial average are displayed after the close of trading on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in Manhattan in New York, U.S., October 11, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) terkapar pada pembukaan perdagangan Senin (17/5/2021), menyusul berlanjutnya aksi jual besar-besaran di tengah lonjakan inflasi. Aksi korporasi raksasa media di negara adidaya itu tak cukup untuk membantu mengangkat indeks bursa.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 50 poin pada pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 15 menit memburuk menjadi 72,4 poin (-0,21%) ke 34.309,69. S&P 500 melemah 9,1 poin (-0,22%) ke 4.164,78 dan Nasdaq drop 38,55 poin (-0,29%) ke 13.391,42.

Saham emiten media melesat di tengah pengumuman merger. AT&T mengumumkan pihaknya melakukan negosiasi untuk merger dengan WarnerMedia, termasuk HBO dan Discovery Channel. Entitas hasil merger akan tercatat di bursa secara terpisah. Saham Discovery melesat 16%, sedangkan saham AT&T menguat 4,9%.


Bitcoin juga menjadi perhatian menyusul anjloknya harga mata uang kripto tersebut ke bawah US$ 43.000 pada Minggu, setelah CEO Tesla Elon Musk dalam cuitannya di Twitter mengatakan menjajaki peluang melepas Bitcoin miliknya, setelah pekan lalu menyatakan menunda penerimaan pembayaran dengan Bitcoin karena pertimbangan lingkungan.

Harga Bitcoin berbalik menguat ke US$ 45.000 setelah Musk mengklarifikasi bahwa Tesla "belum melepas Bitcoin yang dimiliki." Saham Tesla drop 1% di sesi pembukaan. Sementara itu, saham raksasa teknologi lainnya bergerak variatif, di mana Apple melemah, tapi Amazon menguat.

Wall Street pekan lalu melewati pekan yang mendebarkan dengan indeks S&P 500 sempat anjlok 4% sehari dan selama sepekan terhitung melemah 1,4%. Indeks Nasdaq juga tertekan sebesar 2,3%, sedangkan indeks Dow Jones turun 1,1%.

"Kejadian sepekan tak hanya memberi sinyal peringatan mengenai betapa buruknya efek inflasi tetapi juga tanda bahaya tentang bagaimana berakhirnya pasar yang sudah jenuh beli," tutur Nikolaos Panigirtzoglou, Direktur Pelaksana JPMorgan, dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Indeks Harga Konsumen (IHK) di AS pada April melompat 4,2% secara tahunan, menjadi laju yang tercepat sejak 2008, sehingga memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) bakal dipaksa mengurangi laju pembelian surat berharga di pasar.

Pelaku pasar bakal mencari celah peluang perubahan kebijakan The Fed dari nota rapat terakhir yang akan dirilis pada Rabu nanti.

Dari sisi korporasi, sebanyak lebih dari 90% emiten yang menjadi konstituen indeks S&P 500 telah merilis kinerja keuangannya. Dari situ, 86% di antaranya mencetak kinerja yang lebih baik dari ekspektasi pasar. Ini merupakan persentase terbesar sejak 2008, menurut data FactSet..

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading