Pekan Ini Kinerja SBN Masih Apik, Yield SBN Turun Semua

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
15 May 2021 17:15
US Treasury, Bond, Obligasi (Ilustrasi Obligasi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tak hanya pasar saham dan pasar uang dalam negeri, pasar obligasi pemerintah Indonesia pada pekan ini juga hanya dibuka selama dua hari saja, yakni pada Senin (10/5/2021) dan Selasa (11/5/2021).

Walaupun dibuka selama dua hari, namun kinerja obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) pada pekan ini masih cukup apik, di mana seluruh SBN acuan mengalami penguatan harga. Penguatan harga SBN ditandai dengan penurunan imbal hasil (yield) di seluruh SBN acuan pada

Yield SBN acuan tenor 10 tahun turun sebesar 3,8 basis poin (bp) ke level 6,405% dari sebelumnya di level 6,443%.


Secara mayoritas, bahkan seluruh SBN acuan mengalami penurunan, di mana penurunan yield terbesar terjadi di SBN tenor 3 tahun dengan seri FR0039 yang turun signifikan sebesar 10 bp ke level 4,9% dari sebelumnya di level 5%.

Sementara untuk penurunan yield terkecil terjadi di SBN berjatuh tempo 25 tahun yang yield-nya turun cenderung tipis, yakni sebesar 0,3 bp ke level 7,501% dari sebelumnya di level 7,504%.

Penurunan yield SBN terjadi di tengah kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) pada pekan ini. Yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) bertenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan naik sebesar 5,6 basis poin ke level 1,635% dari sebelumnya di level 1,579%.

Naiknya yield Treasury disebabkan oleh reaksi pasar akan setelah inflasi AS pada April meninggi.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan April melesat atau mengalami inflasi 4,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Rilis tersebut jauh lebih tinggi ketimbang hasil survei Dow Jones sebesar 3,6%.

Sementara dari bulan Maret atau secara month-to-month (mtm) tumbuh 0,8%, juga jauh lebih tinggi dari survei 0,2%.

Sementara inflasi inti yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan dalam perhitungan tumbuh 3% yoy dan 0,9% mtm, lebih dari dari ekspektasi 2,3% yoy dan 0,3% mtm.

Kenaikan inflasi secara tahunan tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun 2008, sementara secara bulanan terbesar dalam 40 tahun terakhir.

The Fed sebenarnya menggunakan inflasi berdasarkan Personal Consumption Expenditure (PCE) sebagai acuan, meski demikian inflasi IHK yang tinggi juga bisa menjadi indikasi inflasi PCE akan melesat.

The Fed menetapkan target inflasi rata-rata 2%, jika dalam beberapa bulan ke depan inflasi konsisten di atas target tersebut, bukan tidak mungkin The Fed dalam waktu dekat mempertimbangkan mengurangi nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) atau yang dikenal dengan istilah tapering.

Selain itu, kabar positif dari kebijakan tak wajib memakai masker bagi orang-orang yang sudah divaksin corona (Covid-19) di AS juga menjadi penyebab yield Treasury kembali naik pada pekan ini.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control/CDC) menghapus persyaratan masker untuk orang-orang yang sudah menerima vaksinasi Covid-19 secara penuh atau berada pada jarak 1,8 meter atau 6 kaki.

Ketentuan ini berlaku baik di dalam maupun luar ruangan, seperti yang disampaikan oleh CDC dalam panduan kesehatan masyarakat yang diperbarui yang dirilis Kamis (13/5/2021).

Ini merupakan momen penting, setelah setahun lebih pemerintah AS mesyaratkan masyarakat menggunakan masker di depan umum.

Dalam panduan tersebut, ada beberapa contoh di mana orang masih perlu memakai masker, di tempat perawatan kesehatan atau di bisnis yang memerlukannya. Ketentuan ini juga berlaku bagi orang yang sudah mendapatkan dosis vaksin terakhirnya dua minggu atau lebih, diperkenankan tidak menggunakan masker.

Kebijakan terbaru dari pemerintah AS tersebut memicu optimisme pelaku pasar akan semakin membaiknya perekonomian negeri Paman Sam. Bahkan banyak ekonom, termasuk bank sentral AS (The Fed) memperkirakan produk domestik bruto (PDB) di tahun ini akan menjadi yang terbaik sejak tahun 1984.

Obligasi pemerintah merupakan aset pendapatan tetap yang dinilai sebagai aset safe haven. Ia diburu (sehingga yield naik) ketika pelaku pasar merasa kondisi ekonomi sedang dalam bayang-bayang krisis. Atau, untuk kasus AS, ketika pasokan likuiditas di pasar terus meningkat sementara valuasi bursa saham Wall Street sudah tinggi.

Jadi dapat disimpulkan, jika perekonomian AS semakin membaik, maka prospek pasar obligasi akan terancam, karena investor kembali berinvestasi ke aset berisiko seperti saham dan meninggalkan aset safe haven, seperti obligasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading