Pemulihan Tak Merata, Tapi Harga Minyak Masih Bisa Ngegas

Market - Tirta, CNBC Indonesia
07 May 2021 13:12
ladang minyak Nahr Bin Omar di Irak

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak bangkit setelah ambles pada perdagangan kemarin. Meskipun prospek pemulihan tidak terjadi secara seragam dan pandemi belum berakhir, harga minyak sekarang 90% lebih tinggi dari harga pada periode yang sama tahun lalu. 

Harga minyak mentah yang aktif ditransaksikan di bursa berjangka masing-masing menguat 0,56% dibanding posisi penutupan kemarin. Harga kontrak Brent dipatok di US$ 68,47/barel dan untuk kontrak West Texas Intermediate (WTI) dibanderol di US$ 65,07/barel. 


Meskipun impor minyak mentah China turun 0,2% (yoy) di bulan April menjadi 9,82 juta barel per hari (bph) dan menandai impor terendah sejak bulan Desember, tetapi peningkatan ekspor dan ekspansi sektor jasa China cukup menjadi katalis positif untuk harga si emas hitam menguat. 

Ekspor China tercatat naik 32,3% (yoy) di bulan April. Angka tersebut jauh melampaui estimasi analis yang hanya memperkirakan peningkatan sebesar 24% saja. Jika dibanding dengan bulan Maret lalu yang hanya 30% (yoy) nilai ekspor dalam unit dolar AS China di bulan April juga masih lebih tinggi. 

Sementara itu dari sektor jasa indeks PMI Jasa versi Caixin/Markit naik ke 56,3 dan merupakan level tertinggi sejak bulan Desember tahun lalu ketika pembacaannya berada di level 54,3. 

Di Amerika Serikat sebagai negara konsumen minyak terbesar dunia, klaim pengangguran telah turun yang menandakan pemulihan pasar tenaga kerja telah memasuki fase baru di tengah ekonomi yang berkembang pesat.

Namun, pemulihan permintaan minyak tidak merata karena melonjaknya kasus Covid-19 di India telah mengurangi konsumsi bahan bakar di negara importir dan konsumen minyak terbesar ketiga di dunia.

Kenaikan kasus infeksi Covid-19 di negara-negara seperti India, Jepang dan Thailand menghambat pemulihan permintaan bensin menurut konsultan energi FGE  dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC Indonesia dari Reuters.

Walau ada penurunan permintaan dari beberapa negara tetapi pembukaan ekonomi di AS dan Eropa serta kenaikan perjalanan liburan Hari Buruh di China yang melampaui tahun 2019 turut menopang harga si emas hitam tetap stabil di atas US$ 60/barel.

"Permintaan bensin di AS dan sebagian Eropa relatif baik," kata FGE. "Lebih jauh, kita bisa melihat permintaan meningkat karena pelonggaran penguncian dan adanya kenaikan permintaan selama musim mengemudi musim panas." tambahnya. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading