Sempat Naik di Awal Sesi Perdagangan, IHSG Ditutup Melemah

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
06 May 2021 15:58
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik ke zona negatif pada perdagangan Kamis (6/5/2021), menyusul kekhawatiran seputar perkembangan kasus Covid-19 di Asia dan pengetatan moneter di Amerika Serikat (AS).

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia, IHSG berakhir di level 5.970,24 atau melemah 5,7 poin (-0,09%) atau berbalik dari posisi pembukaan yang menguat 0,18%. Nilai transaksi tercatat hanya Rp 8,9 triliun dengan 14 miliaran saham berpindah tangan nyaris 1 jutaan kali.

Sebanyak 222 saham naik, 269 melemah dan 149 sisanya stagnan. Investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 321,9 miliar di pasar reguler, naik dari net buy sesi pertama yang hanya sekitar Rp 70 miliar. Ini mengindikasikan kuatnya selera beli mereka.


Saham yang diburu terutama PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai masing-masing sebesar Rp 87,9 miliar dan Rp 67,9 miliar. Saham TOWR turun 0,8% menjadi Rp 2.570/unit, sedangkan BBCA flat di level Rp 32.125/unit.

Sebaliknya, aksi jual asing menimpa saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) senilai Rp 52,7 miliar dan PT Indah Kiatn Pulp and Paper Tbk (INKP) sebesar Rp 51,9 miliar. Kedua saham tersebut bergerak berlawanan arah dengan koreksi TOWR sebesar 4% menjadi Rp 1.170/unit dan reli INKP sebesar 0,7% menjadi Rp 9.600/saham.

Pelaku pasar mulai mencermati adanya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed). Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bp) menjadi 0,25-0,5% akhir tahun ini adalah 11%.

Walau masih rendah, angka itu lebih tinggi dari posisi seminggu lalu yaitu 9,8% dan sebulan sebelumnya yakni 8,5%. Kenaikan suku bunga acuan yang membuat hasrat mengoleksi US Treasury Bonds/T Bills meningkat tentu diiringi dengan kenaikan permintaan dolar AS.

Kenaikan suku bunga acuan di AS, serta pengurangan kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE) berpeluang besar memicu terjadinya capital outflow yang akan menekan aset-aset keuangan dalam negeri mulai dari saham, obligasi hingga nilai tukar rupiah.

Kekhawatiran tersebut meningkat setelah Menteri Keuangan Janet Yellen menilai bahwa suku bunga acuan seharusnya dinaikkan untuk mencegah ekonomi AS kepanasan. "Ini bukan sesuatu hal yang saya prediksikan atau rekomendasikan," tuturnya.

Bank sentral AS juga mulai menjajaki peluang tersebut seperti yang disebutkan oleh Vice Chairman The Fed Richard Clarida kepada CNBC International, yang menyebutkan bahwa perlu ada kemajuan tambahan selain pembaikan angka tenaga kerja di AS, dan kemudian bank sentral akan mengurangi kebijakan moneter longgar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Lolos dari Koreksi, IHSG Tutup Sesi 1 dengan Penguatan 0,09%


(ags/ags)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading