Sedang Perkasa, Rupiah Bisa ke Bawah Rp 14.400/US$?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
29 April 2021 12:53
An employee counts U.S. dollar banknotes at a currency exchange office in Jakarta, Indonesia October 23, 2018. Picture taken October 23, 2018. REUTERS/Beawiharta

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah mampu mempertahankan penguatan melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga pertengahan perdagangan Kamis (24/4/2021). Pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) dini hari tadi membuat rupiah leluasa menguat.

Melansir data Refinitiv, rupiah langsung melesat 0,66% ke Rp 14.400/US$ begitu perdagangan hari ini dibuka. Sayanganya, level tersebut menjadi yang terkuat hingga siang ini. Setelahnya rupiah memangkas penguatan dan berada di Rp 14.465/US$ menguat 0,21% pada pukul 12:00 WIB.

Melihat pergerakannya di pasar non-deliverable forward (NDF), rupiah masih akan mempertahankan penguatan di sisa perdagangan hari ini, meski cukup sulit untuk bisa melewati Rp 14.400/US$. Hal tersebut terindikasi dari kurs NDF yang lebih lemah siang ini ketimbang beberapa saat sebelum pembukaan perdagangan pagi tadi.


PeriodeKurs Pukul 8:54 WIBKurs Pukul 11:54 WIB
1 PekanRp14.423,50Rp14.433,8
1 BulanRp14.478,00Rp14.489,0
2 BulanRp14.538,00Rp14.549,0
3 BulanRp14.595,00Rp14.605,0
6 BulanRp14.765,00Rp14.779,0
9 BulanRp14.921,00Rp14.942,0
1 TahunRp15.110,00Rp15.101,0
2 TahunRp15.885,20Rp15.837,0

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot. Padahal NDF sebelumnya murni dimainkan oleh investor asing, yang mungkin kurang mendalami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

The Fed dini hari tadi menegaskan tidak akan mengubah kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Suku bunga 0,25% masih akan dipertahankan setidaknya hingga tahun 2023, meskipun perekonomian AS diakui tumbuh lebih tinggi ketimbang prediksi.

Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk bicara penghentian pembelian obligasi di pasar. The Fed saat ini membeli obligasi atau yang dikenal dengan quantitative easing (QE) senilai US$ 120 miliar per bulan, artinya itu masih akan terus berlanjut, dan belum akan dilakukan pengurangan nilai pembelian atau tapering.

Pengumuman tersebut membuat indeks dolar AS merosot 0,33% pada perdagangan Kamis, dan berlanjut 0,08% siang ini ke 90,437. Indeks dolar AS saat ini berada di level terendah sejak 26 Februari lalu.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading