Kinerja Tertekan & Kena PKPU, Sritex Juga PHK Karyawan

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
26 April 2021 11:20
Ilustrasi Logo Sritex. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten produsen tekstil dan garmen PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex baru-baru ini digugat penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) oleh PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW).

Di balik, sebenarnya perusahaan saat tengah mengalami tekanan masalah keuangan yang cukup berat.

Pasalnya, tahun ini hingga tahun depan perusahaan memiliki utang yang akan jatuh tempo dalam jumlah yang cukup besar, yakni nyari Rp 10 triliun.


Laba bersih perusahaan yang didirikan oleh H. M. Lukminto pada 1966 ini sepanjang tahun lalu juga merosot 2,65% menjadi Rp US$ 85,32 juta atau setara dengan Rp 1,19 triliun (asumsi kurs US$ 1 = Rp 14.000) dari sebelumnya US$ 87,65 juta di akhir 2019.

Penurunan kinerja keuangan perusahaan juga beriringan dengan pengurangan jumlah karyawan tetap.

Mengacu pada laporan keuangan SRIL 2020, per 31 Desember tahun lalu, perusahaan dan entitas anak memiliki 17.186 karyawan tetap. Jumlah tersebut turun 1.577 orang dari akhir 2019 yang sebanyak 18.763 karyawan tetap.

Sebelumnya, Bank QNB Indonesia melayangkan gugatan PKPU terhadap pemilik produsen pengekspor tekstil ini Iwan Setiawan Lukminto dan anak usaha SRIL, PT Senang Kharisma Textil.

Gugatan ini didaftarkan oleh Bank QNB di Pengadilan Negeri (PN) Semarang dengan nomor perkara 13/Pdt.Sus-PKPU/2021/PN Niaga Smg pada Selasa (20/4/2021).

Informasi saja, SRIL mempunyai utang berupa pinjaman sindikasi yang rencananya masih akan direstrukturisasi oleh perusahaan. Namun hingga saat ini masih belum mendapatkan restu dari Mandated Lead and Arranger Bank (MLAB).

Hal ini diketahui dari keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perusahaan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Utang sindikasi yang dimaksud nilainya mencapai US$ 350 juta atau setara dengan Rp 5,07 triliun (kurs Rp 14.500/US$) yang jatuh tempo pada 2022.

Disebutkan bahwa menurut rencana pinjaman ini akan ditandatangani oleh perusahaan dan MLAB pada 19 Maret 2021 lalu. Namun ternyata perpanjangan pinjaman alias restrukturisasi ini gagal dilakukan oleh perusahaan.

"Proses restrukturisasi Perseroan dalam hal melunasi pinjaman sindikasi dimaksud sedang dalam diskusi dan pengkajian dengan Financial Advisor dan Legal Advisor kami. Kami harap bahwa pihak Bursa Efek Indonesia dapat memberikan kami ruang dan waktu agar dapat mencapai keputusan yang terbaik untuk semua pihak," tulis perusahaan dalam keterangannya, dikutip Senin (26/4/2021).

Hal ini mendorong lembaga pemeringkat Fitch Ratings memutuskan untuk menurunkan peringkat Sritex ke CCC- dari B- pada awal bulan ini.

Ini kedua kalinya Fitch melakukan penurunan rating perusahaan dalam periode dua bulan berturut-turut, setelah sebelumnya rating ini diturunkan dari BB- ke B-.

Dalam keterangan yang disampaikan oleh Fitch Ratings, saat ini perusahaan dalam posisi likuiditas yang lemah sedangkan perusahaan memiliki kebutuhan refinancing utang yang tinggi.

Sebab dari posisi likuiditas perusahaan pada akhir 2020 lalu, nilai kas mencapai US$ 187 juta atau Rp 2,71 triliun.

Namun nilai utang yang akan jatuh tempo pada tahun ini saja mencapai US$ 277 juta atau lebih dari Rp 4 triliun, nilai ini di luar sindikasi US$ 350 juta sebelumnya.

Dengan demikian, utang jatuh tempo nyaris Rp 10 triliun.

Selain Fitch, lembaga pemeringkat lainnya, Moody's, juga menurunkan peringkat alias Corporate Family Rating (CFR) emiten ini menjadi B3 dari sebelumnya B1.

Di samping itu, Moody's menurunkan peringkat ke B3 dari B1 pada, pertama, surat utang tanpa jaminan (senior unsecured notes) senilai US$ 150 juta yang jatuh tempo pada tahun 2024. Juga kepada surat utang tanpa jaminan senilai US$ 225 juta yang jatuh tempo pada tahun 2025.

Senior notes ini diterbitkan oleh Golden Legacy Pte. Ltd. dan dijamin tanpa syarat serta tidak dapat ditarik kembali oleh Sritex dan anak perusahaannya.

Saat ini, perusahaan tengah mengupayakan untuk mengajukan moratorium atas obligasi yang diterbitkan oleh anak usahanya Golden Legacy Pte Ltd di Singapura ini. Permintaan moratorium ini akan dilakukan pre-trial conference pada Selasa besok (27/4) di The Singapore High Court.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading