Wadaw! RI Investment Grade & Outlook Masih Negatif

Market - Herdaru Purnomo, CNBC Indonesia
23 April 2021 07:25
Standard and Poor's (S&P)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat global yang berbasis di New York AS, Standard and Poor's (S&P) masih mempertahankan prospek atau outlook "Negatif" atas Indonesia dengan rating BBB pada 22 April 2021.

S&P sempat mengubah outlook dari "Stabil" menjadi "Negatif" pada 17 April 2020 dan kini mempertahankannya. Adapun rating utang Indonesia di level BBB pertama kali dinaikkan dari sebelumnya BBB- pada 31 Mei 2019. Saat itu S&P juga meningkatkan rating utang sovereign jangka pendek dari 'A-2' ke 'A-3'.

Lantas apa alasan anak usaha McGraw-Hill yang tercatat di Bursa New York (New York Stock Exchange) tetap mempertahankan prospek "Negatif"?


Berdasarkan laporan resmi S&P dikutip Jumat pagi (23/4), lembaga rating ini menyatakan bahwa peringkat Indonesia dipertahankan pada level BBB (Investment Grade) karena prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat dan rekam jejak kebijakan yang berhati-hati yang tetap ditempuh otoritas.

Pada sisi lain, S&P juga menyatakan bahwa risiko fiskal dan risiko eksternal terkait pandemi Covid-19 perlu menjadi perhatian.

S&P memperkirakan perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terakselerasi pada 2022 seiring percepatan program vaksinasi dan normalisasi aktivitas ekonomi secara bertahap.

Pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja oleh Pemerintah pada November 2020 juga akan menciptakan lapangan kerja dan menarik penanaman modal asing (PMA) sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Di sisi fiskal, dalam jangka pendek, S&P memperkirakan Pemerintah akan mempertahankan kebijakan fiskal yang ekspansif untuk mendorong pemulihan ekonomi, sehingga defisit fiskal akan lebih tinggi dibandingkan rata-rata historisnya.

S&P memandang dukungan fiskal masih dibutuhkan untuk mitigasi dampak pandemi dan mendukung pemulihan ekonomi. Selanjutnya, S&P memperkirakan bahwa Pemerintah akan secara bertahap mengembalikan kebijakan fiskal ke arah yang lebih prudent.

S&P mencatat peran Bank Indonesia (BI) dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan meredakan guncangan ekonomi dan keuangan.

Langkah BI membeli surat berharga Pemerintah di pasar primer sebagai last resort, dapat membantu Pemerintah mengelola kebutuhan pendanaan dan menurunkan beban bunga ketika pasar keuangan sedang mengalami tekanan.

S&P memandang langkah ini tidak terindikasi memberikan dampak signifikan terhadap inflasi dan imbal hasil obligasi.

Sebelumnya Fitch Ratings juga mengeluarkan afirmasi Indonesia tetap di peringkat BBB dengan outlook "Stabil". Moody's juga tetap memberikan rating Ba2 dengan outlook "Stabil".

Saat itu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa Indonesia relatif mampu menjaga kinerja ekonomi di tengah ancaman pandemi virus corona yang terlihat dari peringkat utang (rating) Indonesia yang tetap bertahan, tidak ada pemangkasan, baik dari Fitch maupun Moody's.

"Fitch Ratings baru mengeluarkan afirmasi Indonesia tetap di BBB dengan outlook stable. Moody's juga tetap di Ba2 dengan outlook stable," tegas Sri Mulyani dalam jumpa pers APBN Kita edisi Maret 2021, Selasa (23/3/2021).

Sri Mulyani menambahkan, ada 124 negara yang terdampak penurunan rating akibat tekanan pandemi virus corona. Fitch menurunkan peringkat utang 51 negara, Moody's 35 negara, dan S&P 38 negara.

Tidak hanya itu, tiga lembaga pemeringkat tersebut juga menurunkan outlook 133 negara menjadi "Negatif". Fitch menurunkan outlook 51 negara, Moody's 36 negara, dan S&P 46 negara.

"Jadi Indonesia yang masih pada posisi stable dan rating kita [tidak] di-downgrade, ini adalah pencapaian yang patut disyukuri. Meski kita tetap harus waspada dan terus memperbaiki faktor-faktor struktural," kata Sri Mulyani.

Tahun ini, BI mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional untuk tahun ini dari 4,3-5,3% menjadi 4,1-5,1%. Demikian pula Dana Moneter Internasional (IMF) yang merevisi ramalan pertumbuhan ekonomi Ibu Pertiwi menjadi 4,3%.

Namun Kementerian Keuangan belum mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2021. Sri Mulyani Indrawati menyatakan proyeksi bersifat dinamis dan bisa berubah sesuai dengan situasi.

"[Proyeksi] pertumbuhan ekonomi masih 4,5-5,3%. Proyeksi berbagai lembaga pasti subject to asumsi. Semua menggunakan asumsi seperti berapa jumlah kasus Covid-19, vaksinasi, akselerasi atau seberapa cepat normalisasi terjadi, apakah ada demand yang tertahan, itu semua working assumption," papar Sri Mulyani dalam jumpa pers APBN Kita edisi April 2021, Kamis (22/4/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading