Bursa Asia Ditutup Hijau Cerah! Cuma Shanghai yang Nyungsep

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
22 April 2021 16:39
A man paues in front of an electric screen showing Japan's Nikkei share average outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 5, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Asia mayoritas ditutup di zona hijau pada perdagangan Kamis (22/4/2021), karena investor menyambut baik pemulihan ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan pasar saham negara maju lainnya.

Cerahnya bursa Asia juga tampaknya terkena sentimen psikologis investor yang melupakan sejenak terkait kasus corona (Covid-19) global yang kembali naik dalam beberapa hari belakangan.

Tercatat indeks Nikkei Jepang ditutup meroket 2,38% ke level 29.188,17, Hang Seng Hong Kong berakhir menguat 0,47% ke 28.755,34, STI Singapura melesat 1,04% KE 3.187,78, KOSPI Korea Selatan tumbuh 0,18% ke 3.177,52, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tipis 0,02% ke 5.994,18.


Sementara untuk indeks Shanghai Composite China ditutup melemah 0,23% ke level 3.465,11 pada perdagangan hari ini.

Bursa saham di Jepang berakhir lebih tinggi, setelah selama 2 hari berturut-turut mengalami pelemahan parah. Saham-saham chip teknologi menjadi pendorong melesatnya bursa saham di Jepang.

"Investor kembali membeli saham karena harga menjadi wajar setelah penurunan dalam dua hari terakhir," kata Masahiro Ichikawa, Chief Market Strategist di Sumitomo Mitsui DS Asset Management.

Saham chip teknologi menguat, dengan saham Tokyo Electron meroket 4,58%, lalu saham Advantest melesat 4,2%, dan saham Shin-Etsu Chemical tumbuh 3,45%.

Penguatan pasar saham Asia didorong oleh tingkat vaksinasi di Inggris dan negara lain yang terus meningkat dan warga yang lelah dengan pandemi merangkul lebih banyak kebebasan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tercermin dalam rilis laporan keuangan beberapa perusahaan baru-baru ini.

Selain itu, pelaku pasar Asia juga merespons positif dari kenaikan bursa saham AS pada perdagangan Rabu (21/4/2021) waktu setempat.

Bursa saham AS (Wall Street) berakhir cerah bergairah pada Rabu waktu setempat, setelah Senat AS baru saja meloloskan aturan Endless Frontier Act.

AS siap menginvestasikan US$ 100 miliar selama lima tahun ke depan untuk penelitian teknologi dasar dan teknologi canggih ditambah US$ 10 miliar untung membangun hub teknologi antar negara.

Meskipun demikian, tensi global terutama diantara dua negara terbesar di dunia AS dan China bisa kembali memanas setelah dua partai terbesar di senat AS, Demokrat dan Republik juga setuju untuk menurunkan aturan yang akan menekan Beijing mengenai masalah hak asasi manusia dan kompetisi ekonomi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading