Wall Street Dibuka Drop Usai Cetak Rekor Tertinggi Pekan Lalu

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
19 April 2021 20:53
Markets Wall Street. (AP/Courtney Crow)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka di zona merah pada perdagangan Senin (19/4/2021), setelah aksi pecah rekor mewarnai Wall Street pada perdagangan pekan lalu.

Indeks Dow Jones Industrial Average drop 150 poin pada pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 20 menit kemudian menjadi minus 94,4 poin (-0,28%) ke 34.106,27. S&P 500 turun 6,05 poin (-0,14%) ke 4.179,42. Nasdaq surut 30,9 poin (-0,22%) ke 14.021,46.

Bitcoin anjlok pada perdagangan akhir pekan lalu setelah menyentuh rekor tertingginya pada US$ 64.841, menurut data Coin Metrics. Mata uang kripto ini bahkan sempat anjlok 19% dari posisi tertingginya, sebelum kemudian menguat lagi.


Terakhir pada perdagangan Senin, mata uang kripto tersebut berada di level US$ 56.794. Saham Tesla, yang merupakan pemegang dan promotor bitcoin, anjlok 2% di pembukaan. Sementara itu saham Coinbase, yang baru saja melakukan pencatatan perdana, tersungkur 3%.

Saham perbankan tertekan menyusul aksi ambil untung pemodal terhadap bank kelas kakap menyusul rilis kinerja keuangan mereka pekan lalu. Goldman Sachs drop 1,3%, Wells Fargo melemah 0,3% dan JP Morgan juga ikut melemah.

Saham Coca-Cola cenderung bergerak menyamping setelah raksasa produsen minuman tersebut mencetak kinerja yang lebih baik dari ekspektasi. Perseroan bahkan menyatakan bahwa permintaan Maret telah kembali ke level sebelum pandemi.

Sepanjang pekan lalu, indeks S&P 500 dan Dow Jones melesat masing-masing sebesar 1,38% dan 1,18% dan mencetak kenaikan mingguan untuk 4 pekan beruntun. Sementara itu, indeks Nasdaq mencetak kinerja serupa untuk pekan ketiga berturut-turut.

Meski saham bergerak di level tertinggi baru tersebut, UBS pada Jumat pekan lalu memprediksikan bahwa indeks S&P 500 bakal menutup tahun di level 4.400, atau naik sekitar 5% dari level penutupan akhir pekan lalu.

"Di satu sisi berinvestasi di level tertinggi sepanjang sejarah bisa jadi menakutkan bagi beberapa pihak, tapi kami yakin masih ada potensi kenaikan," tulis perseroan dalam laporan risetnya, sebagaimana dikutip CNBC International.

Menyusul dua putaran stimulus dan peluang mendongkrak aktivitas liburan, lanjut UBS, bukti pemulihan ekonomi kian bermunculan dan aktivitas ekonomi AS menguat. "Rilis data tenaga kerja terbaru, angka sentimen bisnis, dan penjualan ritel semuanya menunjukkan ke arah pemulihan," tulis perseroan.

Indeks Russell 1000 Growth telah mencetak kinerja fantastis pada bulan lalu, dengan tumbuh 10% dibandingkan dengan indeks Russell 1000 Value yang hanya naik 4%. Namun dalam 3 bulan terakhir, saham berbasis nilai masih membukukan kinerja unggul.

Terkait dengan pandemi, kepala penasihat medis Gedung Putih Anthony Fauci mengatakan bahwa pemerintah akan memakai kembali vaksin besutan Johnson & Johnson.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading