Haduh! Awal Pekan, Bursa Asia Kayak Orang Puasa, Lemas

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
19 April 2021 08:45
Investors look at computer screens showing stock information at a brokerage house in Shanghai, China September 7, 2018. REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia mayoritas dibuka melemah pada perdagangan awal pekan Senin (19/4/2021), seiring dari sikap investor yang mengamati saham Alibaba di Hong Kong, menyusul perkembangan lain antara afiliasi Ant Group dengan miliarder China Jack Ma.

Hanya indeks Straits Times (STI) Singapura yang dibuka naik tipis 0,04% pada perdagangan hari ini. Sedangkan sisanya dibuka di zona merah.

Indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,28%, Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,36%, Shanghai Composite China terpangkas 0,27%, dan KOSPI Korea Selatan turun tipis 0,05%.


Data neraca perdagangan Jepang telah dirilis pada pagi hari ini, di mana berdasarkan data dari kementerian keuangan setempat melaporkan ekspor Jepang pada Maret 2021 melonjak 16,1% dibandingkan dengan Maret tahun sebelumnya (2020). Angka itu jauh lebih tinggi dari konsensus dari Reuters yang memperkirakan ekspor Jepang naik sebesar 11,6%.

Pelaku pasar Asia akan mengamati saham Alibaba pada hari ini, setelah Ant Group mengatakan dalam sebuah 'cuitan' Twitter yang menanggapi laporan terbaru oleh Reuters bahwa perusahaan sedang mencari cara agar Jack Ma keluar adalah "tidak benar dan tidak berdasar''.

Reuters melaporkan pada akhir pekan lalu bahwa raksasa teknologi keuangan China tersebut sedang "menjajaki opsi" bagi Ma untuk divestasi sahamnya di perusahaan itu dan "menyerahkan kendali''.

Beralih ke Amerika Serikat (AS), Bursa saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (16/4/2021) dan kembali mencetak rekor terbarunya.

Dow Jones Industrial Average menguat 0,5%, ke level 34.200,67, S&P 500 tumbuh 0,4% ke penutupan tertinggi baru di 4.185,47 dan indeks Nasdaq naik 0,1% menjadi 14.052,34.

Kinerja apik Wall Street di akhir pekan lalu membuat tiga indeks utama tersebut menguat lebih dari 1% sepekan. S&P 500 dan Dow membukukan minggu positif keempat berturut-turut, sementara Nasdaq yang padat teknologi telah mencatat kenaikan selama tiga minggu berturut-turut.

Sentimen investor didorong oleh banyaknya data ekonomi pada pekan lalu yang menunjukkan rebound dalam belanja konsumen, sentimen dan pasar pekerjaan.

University of Michigan mengatakan pada Jumat (16/4/2021), indeks sentimen konsumen awal naik ke tertinggi satu tahun di 86,5 pada paruh pertama bulan ini dari 84,9 pada Maret 2021.

Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengatakan bahwa ekonomi AS akan lepas landas, tetapi masih belum ada alasan untuk memulai kebijakan pengetatan.

"Saya pikir ekonomi siap runtuh," kata Waller kepada Steve Liesman dari CNBC selama wawancara "Squawk on the Street". "Masih banyak yang harus dilakukan tentang itu, tetapi saya pikir semua orang semakin nyaman dengan pengendalian virus dan kami mulai melihatnya dalam bentuk kegiatan ekonomi."

Data yang keluar Kamis menunjukkan bahwa penjualan Ritel melonjak 9,8% pada Maret 2021 karena stimulus tambahan mengirim belanja konsumen melonjak, melampaui perkiraan Dow Jones yang naik 6,1%.

Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja melaporkan 576.000 pengajuan pertama kali untuk asuransi pengangguran untuk pekan yang berakhir 10 April, mencapai level terendah sejak Maret 2020.

Kinerja kuat S&P 500 dalam beberapa minggu terakhir telah mendorong kenaikan tahunannya menjadi lebih dari 11%. Sektor siklus telah menjadi pemenang terbesar tahun ini dengan energi dan keuangan memimpin reli.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading