Masuki Musim Rilis Laporan Keuangan AS, Dow Futures Tertekan

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
12 April 2021 18:42
In this photo provided by the New York Stock Exchange, trader Americo Brunetti works on the floor, Thursday, March 25, 2021. Stocks are wobbling in afternoon trading Thursday as a slide in technology companies is being offset by gains for banks as bond yields stabilize.(Courtney Crow/New York Stock Exchange via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) bergerak di zona merah pada perdagangan Senin (12/4/2021), setelah sepekan lalu indeks utama bursa Negeri Sam tersebut mencetak rekor tertinggi baru.

Kontrak futures Dow Jones Industrial Average tertekan, mengindikasikan bahwa indeks berisi 30 saham unggulan di AS tersebut bakal dibuka melemah 70 poin dari nilai wajarnya. Kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq juga tertekan, masing-masing sebesar 0,2% dan 0,3%.

Saham siklikal kembali menguat di sesi pra-pembukaan, di antaranya maskapai United Airlines dan peritel Gap yang melonjak nyaris 1%. Saham Tesla lompat 1,5% ke US$ 687,01 di sesi awal pembukaan setelah Canaccord Genuity merekomendasikan beli saham emiten teknologi tersebut dan bahkan mendongkrak target harganya menjadi US$ 1.,071.


Sementara itu, saham Nuance Communications melesat 21% setelah CNBC International mengabarkan bahwa Microsoft sedang bernegosiasi untuk mengakuisisi saham perusahaan pengenal suara tersebut. Saham Microsoft juga menguat tipis.

Terbaru pada Minggu kemarin, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa ekonomi AS berada di "poin pembalikan" dengan pertumbuhan dan kenaikan pembukaan lapangan kerja diprediksi melesat. Dia menilai inflasi 2% masih bisa diterima.

Namun demikian, masih ada risiko seputar pembukaan ekonomi yang terlalu cepat yang bisa memicu kembali kenaikan kasus Covid-19. Powell mengatakan "sangat tidak mungkin" bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan "kapanpun tahun ini."

"Kami ingin melihat inflasi naik menuju 2% - dan itu berarti dalam basis yang berkelanjutan, dan bukan berarti kita akan menyentuh level itu hanya sekali," tutur dia. "Dan kami juga ingin melihatnya sesuai dengan jalur untuk bergerak moderat melampaui 2% untuk beberapa waktu."

Perencana Saham Evercore ISI Dennis DeBusschere menilai tekanan fiskal yang positif, penjualan rumah, tabungan masyarakat yang besar, dan The Fed membiarkan inflasi melampaui 2% menandai situasi ekonomi yang berubah.

"Data AS diperkirakan kuat pekan ini dan vaksinasi di AS meningkat. Suku bunga riil masih terlalu negatif dan kita mengarah pada pertumbuhan, mendukung kinerja saham yang baik meski dengan risiko yang membayang," tuturnya sebagaimana dikutip CNBC International.

Dow Jones pada Jumat pekan lalu melesat nyaris 300 poin dan menyentuh 33.800,6. Indeks S&P 500 tumbuh 0,8% dan menjadi rekor penutupan tertingginya dalam 3 hari beruntun. Saham siklikal menguat menyusul berlanjutnya program vaksinasi. Saham Dow Jones dan S&P 500 pekan lalu menguat setidaknya 2%, sementara Nasdaq melesat 3,1%.

Musim rilis laporan keuangan kuartal I-2021 dimulai pada pekan ini dengan ekspektasi bahwa kinerja emiten AS masih bakal positif. Beberapa emiten kakap yang akan merilis keuangannya pekan ini di antaranya adalah Goldman Sachs dan JPMorgan Chase.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading