Dow Futures Flat, tapi Kontrak Nasdaq Melesat Nyaris 1%

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
08 April 2021 18:21
Specialist Jeffrey Berger works at his post as a television screen on the floor of the New York Stock Exchange shows the rate decision of the Federal Reserve, Wednesday, Jan. 30, 2019. Fed officials ended a two-day meeting on Wednesday by keeping the federal funds rate — what banks charge each other — at a range of 2.25 to 2.50 percent. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada perdagangan Kamis (8/4/2021), meski tipis, dengan kontrak futures Nasdaq mencuri perhatian.

Kontrak futures Dow Jones Industrial Average cenderung flat, dan kontrak serupa indeks S&P 500 naik 0,3%. Sementara itu, kontrak Nasdaq melesat hingga nyaris 1% berkat kenaikan saham FAANG (Facebook, Amazon, Apple, Netflix dan Google) di sesi pra-pembukaan.

Pada Rabu, indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi baru di penutupan, sebesar 4.079,95. Dow Jones Industrial Average juga ditutup menguat 16 poin (+0,1%) dan menyentuh rekor tertinggi baru. Namun, Nasdaq melemah 0,1% meski Amazon, Apple dan Alphabet (induk usaha Google) kompak naik lebih dari 1%, sementara Facebook melesat 2,2%.


Investor kian mantap masuk ke bursa saham setelah nota rapat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menunjukkan bahwa otoritas moneter mempertahankan laju pembelian surat berharga di pasar, guna menopang harga yang stabil dan penyerapan penuh tenaga kerja.

Bagi perencana investasi saham Evercore ISI Dennis DeBusschere, inflasi tak lantas mendorong bank sentral untuk turun tangan. Pasar sebelumnya menebak-nebak kapan The Fed bakal menaikkan suku bunga jauh, dan menduga kemungkinan akan dilakukan lebih dini.

"Pertanyaannya apakah The Fed menaikkan suku bunga sebelum inflasi melewati angka 2% untuk beberapa waktu... pada akhirnya yang terpenting adalah HASILNYA," tutur dia, sebagaimana dikutip CNBC International.

Jika bank sentral tetap mengikuti rencana awal, maka kurva imbal hasil (yield) antara surat utang pemerintah tenor panjang dan pendek akan kian berjauhan. Artinya, pasar kian yakin outlook ekonomi membaik dan angka pengangguran anjlok.

Sementara itu, Presiden AS Joe Biden pada Rabu di Washington menyatakan siap bernegosiasi terkait dengan rencana kenaikan pajak penghasilan (Pph) badan menjadi 28%, guna mendanai program infrastrukturnya senilai US$ 2 triliun.

Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa proposal tersebut akan berujung pada pendapatan ekstra sebesar US$ 2,5 triliun dalam 15 tahun untuk membiayai program yang berjalan selama 8 tahun tersebut. Sejak awal, Partai Republik menyatakan keberatannya atas rencana penaikan pajak korporasi tersebut, terutama di tengah situasi pandemi.

Pada Kamis, investor bakal memantau rilis data Departemen Tenaga Kerja mengenai pengajuan klaim tunjangan pengangguran baru, per pekan lalu. Ekonom dalam polling Dow Jones memperkirakan angkanya bakal mencapai 694.000.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading