Saham-Saham Big Cap Merosot, Gerak IHSG Jadi Abot

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
08 April 2021 12:02
Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berusaha meneruskan tren penguatan hari ini, Kamis (8/4/2021). Akan tetapi, sejumlah saham dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) jumbo alias big cap menghambat kenaikan IHSG sepanjang sesi I ini.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi I, IHSG hanya naik tipis sebesar 0,29% ke posisi 6.054,16. Bahkan, pada awal perdagangan tadi, IHSG sempat memerah hingga menembus 6.030,28.

Berikut ini sejumlah saham big cap (market cap di atas Rp 100 triliun) yang ambles, pada sesi I hari ini (8/4)


  1. Bank Jago (ARTO), -1,74%, ke Rp 9.875, market cap Rp 137,18 T

  2. Bank Central Asia (BBCA), saham -1,52%, ke Rp 30.775, market cap Rp 756,91 T

  3. Elang Mahkota Teknologi (EMTK), -1,21%, ke Rp 2.450, market cap Rp 149,93 T

  4. Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), -0,70%, ke Rp 7.100, market cap Rp 116,84 T

  5. Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), -0,56%, ke Rp 8.850, market cap Rp 102,92 T

  6. Telkom Indonesia (TLKM), -0,29%, ke Rp 3.390, market cap Rp 334,83 T

Menurut daftar di atas, saham peringkat satu empat big cap, dengan market cap terbesar di bursa, ambles dan menjadi pemberat indeks (laggard) pada perdagangan sepanjang sesi I. Kedua saham tersebut, yakni BBCA dan TLKM.

Saham ARTO tercatat paling ambles sepanjang sesi I hari ini, yakni 1,74% ke 9.875/saham. Saham ARTO melanjutkan pelemahan sejak kemarin, ketika ditutup melemah 0,25% ke Rp 10.050/saham.

Kabar terbaru, dana abadi atau Sovereign Wealth Fund asal Singapura GIC Private Limited resmi menggengam 9,12% saham emiten yang dulunya bernama Bank Artos ini. Hal ini dilakukan melalui skema rights issue yang selesai pada petengahan bulan ini.

Berdasarkan Keterbukaan Informasi di Bursa, GIC tercatat memiliki 1,26 miliar saham ARTO dan menjadi pemegang saham terbesar keempat. Total dana yang dirogoh GIC mencapai Rp 3 triliun untuk mengeksekusi rights issue di harga Rp 2.350

Di posisi kedua, saham BBCA, yang notabene saham dengan market cap terbesar di bursa, tercatat juga ambles, yakni sebesar Rp 1,52% ke Rp 30.775/saham.

Kenaikan ini terjadi setelah BBCA naik dalam dua hari terakhir. Para pelaku pasar tampaknya melakukan aksi ambil untung (profit taking) di saham BBCA setelah kenaikan sebelumnya.

Berkat market cap jumbo, saham BBCA menjadi saham yang dengan nilai transaksi terbesar nomor dua pada sesi I ini, berada di bawah saham Aneka Tambang (ANTM). Nilai transaksi BBCA tercatat sebesar Rp 372,3 miliar.

Selain itu, BBCA juga menjadi saham yang paling banyak diobral oleh asing dengan catatan jual bersih Rp 203,2 miliar.

Seperti diketahui, akhir bulan ini, bank dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia ini menjadwalkan pembagian dividen tunai.

BCA akan membagikan dividen tunai sebesar 48% dari perolehan laba bersih sepanjang tahun 2020 yakni sebesar Rp 13,69 triliun. Pembagian dividen tersebut telah disetujui rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar perseroan pada Kamis (29/3/2021).

Saham dengan market cap terbesar ketiga, TLKM, juga merosot 0,29% ke Rp 3.390/saham dengan nilai transaksi Rp 51,7 miliar. Meskipun merosot, asing tercatat ramai-ramai memborong saham ini sebesar Rp 4,5 miliar.

Dalam sepekan TLKM hanya menghijau sekali, yakni pada Rabu (7/4), ketika naik 0,89% ke Rp 3.400/saham. Sisanya, saham emiten 'halo-halo' pelat merah ini memerah. Alhasil, dalam sepekan TLKM terkoreksi 0,88%.


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading