Kinerja 2020

Laba ADHI Anjlok 96% Jadi Rp 24 M di 2020, Ini Pemicunya!

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
06 April 2021 16:48
LRT Jabodebek. (Dok: PT KAI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang tahun 2020, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) hanya mampu membukukan laba bersih sebesar Rp 23,98 miliar. Laba tersebut turun drastis 96% dari laba yang diperoleh BUMN Karya ini pada tahun 2019 sebesar Rp 663,8 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan yang baru diterbitkan, BUMN ini mengalami penurunan pendapatan yang mengakibatkan turunnya laba, baik itu laba kotor, EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi), dan laba bersih yang ikut turun signifikan.

Dalam laporannya, manajemen ADHI mengatakan bahwa pandemi Covid-19 yang terjadi sepanjang tahun lalu--dan sampai saat ini masih terjadi--adalah momok bagi perseroan. ADHI menjelaskan bahwa virus Covid-19 mengakibatkan kenaikan nilai tukar mata uang asing dan menurunnya kegiatan di sektor ekonomi.


Manajemen ADHI juga mengatakan bahwa dampak bagi operasional Grup masih akan terasa untuk beberapa bulan mendatang, baik itu dampak langsung maupun tidak langsung, menyebabkan beberapa proyek/penjualan baru mengalami penundaan untuk sementara waktu.

Dalam situasi pandemi 2020, emiten konstruksi yang menangani proyek LRT Jabodebek ini juga sempat melakukan beberapa perubahan baik terkait kebijakan perseroan atau bisnis dan perjanjian dengan pihak luar untuk memitigasi risiko bisnis yang mungkin timbul.

Sepanjang 2020 lalu perusahaan berusaha menurunkan penyebaran virus dengan memperketat protokol di lingkungan kantor dan proyek. Hal ini dilakukan guna tidak terjadinya keterlambatan penyelesaian proyek. Perusahaan juga menyeleksi belanja modal (capital expenditure/capex) yang menyebabkan turunnya arus kas investasi perusahaan sebesar 66,7%.

Upaya untuk dapat bertahan di masa pandemi juga mengharuskan perusahaan lebih selektif dalam memilih proyek investasi, mengingat sebagian besar APBN untuk konstruksi dialihkan sektor kesehatan.

Sedangkan dari sektor properti, ADHI melakukan penguatan pemasaran di area properti seperti bekerjasama dengan pihak kampus, bekerja sama dengan perbankan untuk mendapatkan potongan kredit, dan sebagainya.

Secara eksternal, ADHI juga mengajukan relaksasi perbankan baik dari sisi bunga, pokok dan tenor pinjaman.

Buruknya iklim ekonomi konstruksi yang dilibas pandemi juga memaksa ADHI mengajukan permohonan perpanjangan jatuh tempo fasilitas NCL (Non Cash Loan Facilities) dari 3 bulan menjadi 6 bulan.

Tidak sampai di situ saja, ADHI juga mengajukan penurunan tarif pajak penghasilan sesuai dengan PP No.30 tahun 2020 dan melakukan relaksasi pembayaran Pajak Pertambahan Nilai.

Tahun lalu, anjloknya laba sejalan dengan turunnya pendapatan perusahaan dari penjualan pada tahun 2020 menjadi Rp 10,8 triliun atau menyusut 29,27% secara tahunan (Year-on-year/YoY). Pendapatan perusahaan selama tahun 2019 mencapai Rp 15,3 triliun.

Sepanjang tahun 2020, beban pokok penjualan perusahaan mengalami penurunan. Beban pokok penjualan turun menjadi Rp 9,09 triliun dari Rp 12,97 triliun.

Dari sisi aset, terjadi sedikit apresiasi sebesar 4,32% menjadi Rp 38,09 triliun pada tahun 2020, dari posisi yang sama tahun 2019 senilai Rp 36,51 triliun. Aset lancar tercatat Rp 30,09 triliun berkurang sedikit dari Rp 30,31 triliun, sedangkan untuk aset tidak lancar mengalami kenaikan 29,07% menjadi Rp 8 triliun dari sebelumnya hanya Rp 6,2 triliun.

Di pos liabilitas terjadi kenaikan 9,56% menjadi sebesar Rp 32,51 triliun dari posisi tahun 2019 dengan jumlah Rp 29,68 triliun. Liabilitas jangka pendek tercatat senilai Rp 27,06 triliun dan liabilitas jangka panjang mencapai Rp 24,56 triliun.

Untuk ekuitas di akhir 2020 ditutup pada posisi Rp 5,57 triliun, naik18,43% dari Rp 6,83 triliun pada tahun sebelumnya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading