Harga Batu Bara Tembus US$ 95, Ternyata Ini Pemicunya

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
29 March 2021 09:15
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak batu bara termal ICE Newcastle yang aktif ditransaksikan di bursa berjangka menguat 1,6% minggu lalu. Pada perdagangan terakhir, harga si batu hitam ditutup di US$ 95/ton. 

Kini harga batu bara berada di rentang level tertingginya dalam dua tahun. Sepanjang 2021, harga batu bara sempat menyentuh level US$ 98,4/ton. Hanya saja setelah itu harga melorot. 


Kenaikan harga batu bara minggu lalu tak terlepas dari adanya isu disrupsi pasokan di Negeri Kanguru. Hujan deras dan banjir terparah dalam 50 tahun telah menutup pelabuhan ekspor batu bara terbesar di dunia.

"Dampak dari penutupan pelabuhan Newcastle Australia ini kemungkinan paling parah dirasakan India." tulis Clyde Russel seorang kolumnis Reuters.

Curah hujan lebih dari 1 meter di beberapa tempat dalam beberapa hari terakhir, dan ancaman lebih banyak yang akan datang, menyebabkan penutupan jalur kereta api dari tambang batu bara di Hunter Valley, utara Sydney, dan pemuat batu bara di Newcastle Port, yang mengirimkan sekitar 158 juta ton bahan bakar tahun lalu. 

Sebagian besar batu bara yang dikirim dari Newcastle adalah batu bara termal berkalori tinggi yang digunakan di pembangkit listrik, bersama dengan beberapa jenis batu bara yang digunakan untuk membuat baja.

Sebagian besar ekspor Newcastle ditujukan ke pelanggan jangka panjang di Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan. Namun dalam beberapa bulan terakhir terjadi peningkatan pengiriman volume batu bara termal ke India.

Fenomena ini tidak biasa terjadi karena India lebih biasanya lebih memilih batu bara yang lebih murah, dan tidak terlalu intensif energi asal Indonesia yang juga lebih dekat dengan negara Asia Selatan.

Di saat yang sama perselisihan China yang sedang berlangsung dengan Australia atas berbagai masalah telah menyebabkan Beijing memberlakukan larangan tidak resmi atas impor batu bara dari pengekspor batu bara kokas terbesar di dunia dan nomor dua dalam batu bara termal yakni Negeri Kanguru.

Akibatnya, aliran batu bara di seluruh Asia terpaksa diatur kembali, dengan India membeli batu bara termal Australia dalam volume yang meningkat dan China menyedot kargo Indonesia yang sebelumnya akan dikirim ke India.

Impor India dari Australia mencapai lebih dari 5 juta ton sebulan sejak Oktober. Untuk bulan Maret, impor India dari Australia diperkirakan oleh Refinitiv sebesar 6,7 juta ton, naik dari 6,13 juta di bulan Februari dan sejalan dengan 6,8 juta di bulan Januari.

Sementara pengiriman dari pelabuhan Newcastle kemungkinan akan dilanjutkan dalam beberapa minggu ke depan, kerugian akibat banjir dalam waktu yang relatif singkat akan memperketat pasokan batu bara di pasar lintas laut Asia. Inilah yang membuat harga si batu legam naik belakangan ini. 

TIM RISET CNBC INDNESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sempat Ambles, Harga Batu Bara 'Ngamuk' Lagi Balik ke US$ 85


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading