Wow! BUMI Bayar Royalti Hampir Rp 9 T ke Negara

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
22 March 2021 17:42
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu penyumbang penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari segmen batu bara terbesar. Produsen batu bara terbesar di Indonesia ini setiap tahunnya memproduksi kisaran 80-85 juta ton, jauh lebih besar dibandingkan perusahaan serupa. Selain itu, Bumi Resources juga menjadi penyumbang besar dalam royalti dan devisa hasil ekspor.

"Bumi Resources adalah kontributor royalti terbesar di Indonesia bisa sekitar hampir bisa sampai Rp 9 triliun hanya royalti. Kalau mau ditambahkan pajak, maka kami juga termasuk top 31 pembayar pajak terbesar di Indonesia," kata Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava kepada CNBC Indonesia belum lama ini.

Pada 2018, BUMI dinobatkan sebagai Pembayar PNBP Terbesar di Indonesia. Secara keseluruhan kontribusi Grup BUMI melalui Kaltim Prima Coal dan Arutmin mencapai Rp 8,4 trilun. Jumlah ini 2-3 kali lebih besar dari perusahaan lain yang juga mendapatkan peringkat sebagai penyumbang PNBP terbesar.


Pada 2018, total PNBP dari minerba mencapai Rp 49,63 triliun artinya kontribusi Bumi Resources 17% dari sektor ini. Dengan produksi perusahaan pada 2020 mencapai 81 juta ton, artinya PNBP yang dikontribusikan BUMI tidak akan jauh berbeda, bahkan pada 2017 kontribusinya mencapai Rp 9,1 triliun atau 22,4% dari PNBP minerba keseluruhan. Selama ini batu bara pun masih mendominasi dalam PNBP Minerba.

Sebagai perbandingan royalti yang dibayarkan oleh Bumi Resources jauh lebih besar daripada royalti PT Freeport Indonesia maupun perusahaan batu bara lainnya.

Dileep mengatakan besarnya kontribusi batu bara pada penerimaan negara, masih melebihi hasil tambang lainnya seperti nikel, zinc, maupun emas. Hal ini pun terlihat dari PNBB yang dicatatkan oleh pemerintah, sepanjang 2020 ESDM mencatat PNBP mencapai Rp 34,6 triliun. Dari jumlah tersebut sekitar 85% berasal dari sektor batu bara sendiri hampir Rp 30 triliun.

Adapun jumlah PNBP ini 110% melebihi target yang sebesar Rp 31,41 triliun. Dengan posisi produksi Bumi Resources yang masih terjaga di kisaran 81 juta ton, jumlah PNBP yang dibayarkan berpotensi tidak jauh dari nilai pada 2018 dengan posisi produksi 83 juta ton dan kontribusi Rp 8,4 triliun.

"Kami masih (perusahaan batu bara) yang terbesar, sehingga menjadi objek vital," kata Dileep.

Bumi Resources menurutnya juga menyambut baik adanya insentif royalti 0% untuk hilirisasi batu bara. Apalagi dalam jangka menengah hilirisasi dan diversifikasi menjadi salah satu target dari perusahaan.

"Atensi kami sekarang adalah batu bara ketika gasifikasi, Kaltim Prima Coal sudah mulai proyek tahap awal, pemerintah juga sudah memberikan insentif dengan 0% royalti buat downstream sehingga kita akan ambil advantage. Kami support itu, dan prioritas kami adalah domestik," kata Dileep.

Untuk gasifikasi menurutnya baru akan mulai memasok untuk proyek hilirisasi batu bara tersebut baru dimulai paling cepat pada 2023-2024. Sementara untuk proyek gasifikasi yang melibatkan salah satu anak usahanya, Arutmin Indonesia masih dalam tahap pre-studi kelayakan dan diperkirakan baru dimulai 2025.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

BUMI Raih Gold Rank dari ASRRAT Untuk 3 Tahun Berturut-turut


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading