Angka Pengangguran Memburuk, Wall Street Berpeluang Tertekan

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
18 March 2021 19:59
People walk on Wall Street in front of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., February 6, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) melemah pada Kamis (18/3/2021), menyusul tekanan yang menimpa harga saham-saham teknologi menyusul kenaikan lagi imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average flat. Kontrak serupa indeks S&P 500 turun 0,8%. Kontrak Nasdaq anjlok 1,8% dipicu koreksi saham Apple, Alphabet, Microsoft dan Facebook yang anjlok setidaknya 1% di pasar pra-perdagangan. Tesla drop lebih dari 2%.

Hal ini terjadi setelah yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali lompat 10 basis poin menjadi 1,74%, menjadi yang tertinggi sejak Januari 2020 setelah Rapat Komite Terbuka Federal (Federal Open Committee Meeting/FOMC).


Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun naik 6 basis poin dan menembus 2,5% atau pertama kali sejak Agustus 2019. Kenaikan imbal hasil obligasi membuat emiten teknologi yang secara natural rajin menerbitkan obligasi menghadapi kenaikan beban.

Selain itu, data klaim awal tunjangan pengangguran pekan lalu ternyata berbalik dari ekspektasi. Ekonom dalam polling Dow Jones memperkirakan akan ada 700.000 klaim permulaan pekan lalu, turun dari 712.000 sepekan sebelum itu. Namun faktanya, ada 770.000 penganggur baru.

Namun kabar bagus muncul dari rilis data indeks manufaktur Federal Reserve Philadelphia yang menunjukkan angka 51,8, atau jauh melampaui konsensus yang dikompilasi Dow Jones sebesar 22 dan menyentuh level tertingginya sejak 1973.

Pada Rabu, Dow Jones ditutup menembus level psikologis baru 33.000 setelah The Fed menyatakan tak akan menaikkan suku bunga acuan ataupun mengurangi pembelian obligasi di pasar setidaknya sampai 2023, hingga pasar tenaga kerja dan ekonomi membaik.

"Hasil FOMC sama seperti pandangan pasar bahwa pertumbuhan dan inflasi kemungkinan berbalik menguat karena aktivitas mulai meningkat pada 2021, tapi tak memberikan pandangan bahwa kenaikan aktivitas itu bakal tahan lama," tutur Eric Winograd, ekonom senior AB, sebagaimana dikutip CNBC International.

The Fed memperkirakan ekonomi Negara Adidaya bakal melesat 6,5% pada 2021, sebelum mereda dalam beberapa tahun kemudian, sementara inflasi bisa menyentuh 2,2% tahun ini, sebagaimana terlihat dari belanja konsumsi personal.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading