Arab Diserang Drone, Bursa Saudi & Saham Aramco Merah Tipis

Market - Putra, CNBC Indonesia
08 March 2021 15:45
A Saudi stock market official smiles as he watches the stock market screen displaying Saudi Arabia's state-owned oil company Aramco after the debut of Aramco's initial public offering (IPO) on the Riyadh's stock market in Riyadh, Saudi Arabia, Wednesday, Dec. 11, 2019. (AP Photo/Amr Nabil)

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan rudal dan drone (pesawat tanpa awak) terjadi di Arab Saudi. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 12 drone dan dua rudal mengepung 'jantung' industri minyak di bagian timur negara itu, Minggu (7/3/2021).

Pemberontak Huthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab. Milisi yang diklaim didanai Iran itu, mengakui telah menembakkan drone dan rudal ke Ras Tanura, pelabuhan minyak terbesar dunia, dan Dammam, yang dekat dengan fasilitas minyak BUMN Saudi, Saudi Aramco, di Dhahran.

Merespons serangan ini indeks saham acuan Negara Minyak Tadawul All Share terkoreksi tipis saja 0,09% setelah sempat anjlok 0,33%.


Saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa Saudi yakni Aramco yang menjadi target serangan juga hanya terkoreksi tipis 0,14% setelah sempat anjlok 0,42%. Harga saham Aramco berada di level 35.70 SAR (Saudi Arabian Riyal).

Serangan ini menjadi eskalasi baru dalam konflik enam tahun terakhir antara kelompok pemberontak Huthi di Yaman dengan Arab Saudi. Serangan terjadi ketika koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengebom ibu kota Sanaa, Yaman yang dikuasai Huthi setelah mencegat drone dan rudal lintas batas milik yang lebih dulu menyerbu negeri Raja Salman.

Beruntung serangan itu tidak menimbulkan korban atau kerusakan. Namun serpihan rudal di Dhahran disebut jatuh di pemukiman perumahan pekerja Saudi Aramco.

Ras Tanura sendiri adalah terminal minyak terbesar di dunia. Ada sekitar 6,5 juta barel minyal yang diekspor per hari atau hampir 7% dari permintaan minyak.

Dengan demikian salah satu instalasi paling terlindungi di dunia. Pelabuhan tersebut memiliki tangki penyimpanan besar tempat minyak mentah disimpan sebelum dipompa ke kapal tanker super.

Akibatnya hari ini harga minyak dunia Brent mengalami kenaikan hingga 2%. Satu barel kini menjadi US$ 70,82, tertinggi sejak Mei 2019.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan kerajaan mengutuk sabotase musuh yang terjadi berulang-ulang. Kerajaan meminta negara dunia, kata dia, berdiri melawan serangan yang ditujukan ke objek vital dan sipil.

"Tindakan sabotase semacam itu tidak hanya menargetkan Kerajaan Arab Saudi, tetapi juga keamanan dan stabilitas pasokan energi ke dunia, dan karenanya, ekonomi global," katanya dikutip dari Saudi Gazette.

"Mereka mempengaruhi keamanan ekspor minyak bumi, kebebasan perdagangan dunia, dan lalu lintas laut."

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading