Yield SBN AS Naik, Dow Futures Kembali Bergerak di Zona Merah

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
26 February 2021 19:15
A specialist trader works at his post on the floor of the New York Stock Exchange, (NYSE) in New York, U.S., March 22, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) bergerak volatil pada perdagangan Jumat (26/2/2021), setelah sebelumnya saham teknologi kembali berguguran akibat kenaikan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average mengimplikasikan bahwa indeks berisi 30 saham utama AS itu bakal dibuka melemah 60 poin. Kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq juga tertekan, masing-masing sebesar 0,4% dan 0,1%.

Pergerakan kontrak futures ketiganya jatuh-bangun berlawanan arah dengan naik-turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun yang selama ini menjadi acuan pasar. Aroma koreksi kali ini cenderung melanjutkan tren penurunan kemarin.


Pada Kamis, Dow Jones anjlok 559 poin, atau 1,8%, sementara S&P 500 turun 2,5% menjadi koreksi harian terburuk sejak 27 Januari. Indeks Nasdaq tersungkur 3,5% atau menjadi koreksi harian terburuk sejak 28 Oktober.

Tadi malam, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh angka 1,6% atau menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir, meski kemudian surut pada pagi ini ke level 1,4719% dan pada petang hari ini berada di level 1,48%, atau tertinggi sejak Februari 2020.

Sepanjang tahun berjalan, yield obligasi acuan itu telah naik lebih dari 50 basis poin (bp)-setara dengan 0,5%. Kenaikan obligasi 10 tahun ini bakal memicu lonjakan beban bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan mobil/motor (KPM) di AS.

Kondisi ini menekan emiten teknologi karena bisnis mereka padat modal sehingga rutin merilis obligasi. Saham teknologi berguguran seperti Alphabet, Facebook dan Tesla, masing-masing sebesar 3,2%, 3,6% dan 8%.

Di pasar pra-pembukaan, saham Tesla anjlok 3% malam ini diikuti saham Apple dan Facebook yang juga tertekan. Saham Apple dalam sebulan ini terhitung sudah anjlok hingga 15%.

Imbal hasil tinggi juga mendorong investor untuk berpindah dari saham ke obligasi. Sebagai perbandingan imbal hasil dividen (dividen yield) indeks S&P 50-yang premi risikonya lebih tinggi dari obligasi-kini berada di level 1,47% atau kalah dari yield SBN 10 tahun (1,5%).

Kenaikan yield itu juga terjadi di tengah ekspektasi bahwa ekonomi AS akan membaik di tengah vaksinasi dan kucuran stimulus fiskal US$ 1,9 triliun. Partai Demokrat sejauh ini berjuang untuk meloloskan stimulus tersebut, yang dibarengi kenaikan upah minimum sebesar US$ 15/pekerja.

Oleh karenanya, investor di bursa pun menjual saham teknologi dan memburu saham siklikal yang diuntungkan pemulihan ekonomi. Saham sektor energi telah menguat 6,8% sepanjang pekan berjalan, diikuti sektor keuangan dan manufaktur.

Saat ini Senat yang dikuasai Partai Demokrat berpeluang besar meloloskan stimulus tersebut, tetapi tak bisa menambah embel-embel seperti kenaikan upah minimum, jika dinilai memukul keuangan negara.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Perdagangan Saham Hanya Setengah Hari, Dow Futures Naik Tipis


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading