Pertanda Buruk!, Bursa Asia Dibuka Berjatuhan

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
26 February 2021 09:14
Passersby are reflected on an electronic board showing the exchange rates between the Japanese yen and the U.S. dollar, the yen against the euro, the yen against the Australian dollar, Dow Jones Industrial Average and other market indices outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 6, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia dibuka di zona merah pada Jumat (26/2/2021), mengikuti bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup berjatuhan pada Kamis (25/2/2021) waktu setempat setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali naik dan menyentuh level 1,5% kemarin.

Tercatat indeks Nikkei Jepang dibuka ambles 1,57%, Hang Seng Hong Kong ambrol 2,2%, Shanghai Composite China terperosok 1,97%, Straits Times Index (STI) Singapura anjlok 1,7% dan KOSPI Korea Selatan terjatuh 2,25%.

Pertanda buruk akan terjadi hari ini, di mana bursa saham Wall Street ditutup berjatuhan pada perdagangan Kamis waktu setempat, setelah sehari sebelumnya sempat melesat.


Dow Jones Industrial Average (DJIA) ambrol 1,75% ke level 31.402,01, S&P 500 ambles 2,45% ke 3.829,22 dan Nasdaq Composite terjatuh hingga 3,52% ke 13.119,43.

Penyebab utama harga saham-saham di AS berguguran masih sama yaitu kenaikan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury Bond). Yield nominal untuk US Treasury tersebut kini sudah tembus 1,5% sekaligus menjadi level tertinggi dalam satu tahun.

Berdasarkan data dari situs World Government Bond, yield US Treasury Bond acuan tenor 10 tahun naik signifikan, yakni 15,8 basis poin (bp) ke level 1,53% pada perdagangan Kamis kemarin.

Imbal hasil yang tinggi juga berpeluang mendorong investor untuk berpindah dari saham ke obligasi. Sebagai perbandingan imbal hasil dividen indeks S&P 500 saat ini berada di level 1,47% meski premi risikonya lebih tinggi ketimbang pasar obligasi negara.

"Basis asumsi kami adalah imbal hasil akan terus naik karena ekonomi bertumbuh, ekspektasi inflasi yang naik, dan akhirnya normalisasi Federal Reserve," tutur Ryan Detrick, kepala perencana pasar LPL Financial sebagaimana dikutip CNBC International.

Jika imbal hasil terus naik terlalu tinggi dan terlampau cepat, lanjut dia, The Fed akan turun tangan memastikan kenaikan tersebut tidak terlalu ketat dan mengganggu pasar saham atau ekonomi di sektor riil.

Kekhawatiran soal yield obligasi AS sempat surut setelah bos bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell menilai inflasi bukanlah ancaman, karena perlu 3 tahun untuk mencapai target inflasi yang dipatok bank sentral.

Dalam pidato di depan Komite Layanan Keuangan DPR AS Rabu (24/2/2021) malam, Powell menilai inflasi bakal volatil ketika ekonom dibuka kembali dan permintaan meningkat dan pihaknya memiliki kiat untuk mengatasi kemungkinan itu. Namun faktanya, imbal hasil obligasi pemerintah AS justru kembali naik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading