Kontrak Futures Dow cs Liar, Wall Street Bakal Dibuka Volatil

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
25 February 2021 19:36
A specialist trader works at his post on the floor of the New York Stock Exchange, (NYSE) in New York, U.S., March 22, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) bergerak variatif (mixed) pada perdagangan Kamis (25/2/2021), setelah sebelumnya Dow Jones mencetak rekor tertinggi baru.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average bergerak volatil, antara zona positif dan negatif. Kontrak serupa indeks S&P 500 melemah tipis sebesar 0,3%, sedangkan kontrak futures Nasdaq anjlok 1% menyusul koreksi saham Tesla dan Facebook di sesi pra-pembukaan.

Pada Rabu, Dow Jones lompat 425 poin menyentuh rekor tertinggi dalam perdagangan yang volatil karena sempat anjlok hingga lebih dari 110 poin. Indeks S&P 500 melesat 1,1%, sementara Nasdaq tumbuh 1% setelah sempat melemah 1,3%.


Kenaikan imbal hasil (yield) sempat menekan bursa, mengingat imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun menyentuh 1,46% yang merupakan level tertinggi sejak Februari 2020. Kondisi ini menekan emiten teknologi karena bisnis mereka padat modal sehingga rutin merilis obligasi.

Imbal hasil tinggi juga menarik investor berpindah dari saham ke obligasi. Namun, yield agak surut setelah bos bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell menilai inflasi bukanlah ancaman, karena perlu 3 tahun untuk mencapai target inflasi yang dipatok bank sentral.

"Basis asumsi kami adalah imbal hasil akan terus naik karena ekonomi bertumbuh, ekspektasi inflasi yang naik, dan akhirnya normalisasi Federal Reserve," tutur Ryan Detrick, kepala perencana pasar LPL Financial sebagaimana dikutip CNBC International.

Jika imbal hasil terus naik terlalu tinggi dan terlampau cepat, lanjut dia, The Fed akan turun tangan memastikan kenaikan tersebut tidak terlalu ketat dan mengganggu pasar saham atau ekonomi di sektor riil.

Dalam pidato di depan Komite Layanan Keuangan DPR AS semalam, Powell menilai inflasi bakal volatil ketika ekonom dibuka kembali dan permintaan meningkat. Namun demikian, The Fed telah memiliki resep untuk mengatasi kemungkinan lonjakan inflasi jika benar terjadi.

Investor global juga memantau data ekonomi dari AS, di antaranya klaim awal pengangguran di mana ekonom dalam survei Dow Jones memperkirakan angka 845.000. Di sisi lain, Departemen Perdagangan akan merilis estimasi kedua pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2020.

Beberapa emiten besar di Eropa juga akan merilis kinerja keuangannya seperti Best Buy, Papa John's and Domino's Pizza, dan Airbnb yang baru saja mencatatkan sahamnya di bursa.

Saham GameStop, yang sempat ramai bulan lalu karena menjadi lokasi perlawanan investor ritel terhadap praktik jual kosong (short selling), hari ini kembali bangkit dengan meroket lebih dari 50% di sesi pra-pembukaan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading