Tentang Utang RI Rp 6.000 T, Apa Iya Seserem Itu?

Market - Cantika Adinda, CNBC Indonesia
23 February 2021 20:03
Infografis/ Total utang Pemerintah RI per Akhir Juni 2019 Foto: Infografis/ Total utang Pemerintah RI per Akhir Juni 2019 / Aristya Rahadian Krisabella

Jakarta, CNBC Indonesia - Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo menjelaskan pembiayaan APBN Indonesia dalam 6 tahun terakhir cukup tinggi. Tapi, masih aman jika dibandingkan dengan negara lain. 

"Dalam 5 tahun terakhir, pengelolaan APBN sebenarnya sangat prudent dan ditunjukkan dengan kehati-hatian yang tinggi. Penerbitan utang bisa dipertanggungjawabkan semua akuntabel," jelas Yustinus dalam webinar yang diselenggarakan oleh Kantor Staf Presiden (KSP), Selasa (23/2/2021).

Penarikan utang pada 2020, sambung Prastowo juga lebih besar karena dampak pandemi Covid-19. Oleh karena itu, pemerintah pun menetapkan kebijakan untuk melebarkan defisit APBN di atas 3%.


Pada 2020, defisit APBN Indonesia dialokasikan hingga mencapai 6,09% dari PDB (Produk Domestik Bruto). Menurut Yustinus alokasi defisit tersebut masih cukup moderat dibandingkan dengan negara lain yang defisit fiskalnya menyentuh dua digit. Bahkan ada yang sampai 20% dari PDB.

"Proyeksi utang kita dibandingkan negara lain paling rendah. Rasio utang publik kita paling rendah dan di ASEAN utang kita paling kecil. Ini sekaligus klarifikasi, banyak tuduhan seolah kita ini tukang utang dan utang kita sudah tidak aman," jelas Yustinus.

Dalam 10 tahun terakhir, kata Yustinus, rasio utang Indonesia bisa tetap dijaga hingga di bawah 30%. Kemudian dalam proses pembayaran cicilan pokok dan bunga utang, kata Yustinus dalam beberapa tahun terakhir cenderung lebih rendah dan stabil. Kecuali pada 2020, karena adanya pandemi Covid-19.

HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading