Esok Gong Xi Fa Cai! 10 Saham Ini Ramai Dilego Asing Sepekan

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
11 February 2021 08:31
Ilustrasi IHSG (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jelang perayaan Tahun Baru Imlek pada Jumat besok (12/2021), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada perdagangan Rabu kemarin (9/2/21), setelah sebelumnya ditutup terkoreksi pada perdagangan sesi I. IHSG terendah sempat di level 6.168 dan tertinggi 6.216.

Data perdagangan menunjukkan, IHSG ditutup menguat 0,33% di level 6.201,83.

Nilai transaksi turun menjadi Rp 14 triliun dari beberapa hari sebelumnya di atas Rp 15 triliun. Besaran volume perdagangan tercatat 13,11 miliar saham dengan frekuensi perdagangan 1,22 juta kali.


Namun, investor asing kembali melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 229 miliar di pasar reguler. Terpantau 225 saham menguat, 231 saham melemah, sedangkan sisanya yakni 186 stagnan.

Jelang perayaan Jumat besok, Imlek 2572 yang biasa disapa dengan Gong Xi Fa Cai (Semoga Anda makmur) diwarnai dengan aksi jual bersih di saham-saham unggulan, setidaknya dalam 5 hari perdagangan terakhir akumulatf.

10 Top Net Foreign Sell 5 Hari Perdagangan per Rabu (10/2/2021)

1. Indofood CBP (ICBP), net sell Rp 329 M, saham -4,51% Rp 9.000

2. Astra International (ASII), Rp 289 M, saham -4,07% Rp 5.900

3. Bank Mandiri (BMRI), Rp 197 M, saham flat 6.500

4. Vale Indonesia (INCO), Rp 153 M, saham +2,99% Rp 6.025

5. Adaro Energy (ADR), Rp 140, saham +2,56% Rp 1.200

6. XL Axiata (EXCL), Rp 94 M, saham flat Rp 2.340

7. Indofood Sukses (INDF), Rp 75 M, saham -2,78% Rp 6.125

8. Tower Bersama (TBIG), Rp 68 M, saham -7,23% Rp 2.180

9. Semen Indonesia (SMGR), Rp 35 M, saham +1,61% Rp 11.050

10. Mitra Adiperkasa (MAPI), Rp 35 M, saham -1,97% Rp 745

Data BEI menunjukkan dalam sehari kemarin, duo saham Grup Indofood masih dilepas asing. Begitu pun untuk saham-saham BUMN seperti Bank Mandiri atau Semen Indonesia. Namun di saham BUMN lain, asing jutsru melakukan beli bersih saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kemarin sebesar Rp 250 miliar dan di saham otomotif swasta, PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp 28 miliar.

Sementara itu, penjualan bersih oleh investor asing (net sell) dilakukan di saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) sebesar Rp 51 miliar dan di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 47 miliar.

Tahun ini, PT UOB Asset Management Indonesia memproyeksikan bursa saham domestik tahun ini akan berada di tren positif dan berpotensi menembus level psikologis 7.400 untuk IHSG.

Direktur Utama UOB Asset Management Indonesia Ari Adil memaparkan, adanya potensi penguatan IHSG menuju level 7.400. Proyeksi tersebut didasarkan dari data rata-rata IHSG selama 10 tahun dengan asumsi kenaikan earning per share (EPS) 25% di tahun 2021, di poin +1 standar deviasi sebesar 17,4x price to earnings ratio (PER).

Menurutnya, arus investasi kemungkinan akan meningkat seiring dengan adanya UU Cipta Kerja (Omnibus Law) dan pemulihan ekonomi di tahun 2021, yang akan mendorong pertumbuhan laba per saham alias earnings per share (EPS) emiten dan menahan tren arus modal keluar.

Dengan demikian, pasar modal masih akan menjadi salah satu pilihan investasi yang menarik bagi para investor di tengah pandemi Covid-19.

Selain potensi EPS yang bertumbuh, suku bunga acuan yang rendah juga akan menciptakan minat terhadap aset berisiko seperti saham.

UOB menilai, Bank Indonesia masih memiliki kemungkinan untuk menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada semester I tahun ini.

Dengan demikian, arus dana asing seharusnya kembali lagi ke Indonesia seiring minat investor yang akan beralih ke aset berisiko seperti saham untuk mendapatkan potensi keuntungan lebih tinggi.

Selain itu, ia menyebut bahwa sejak diresmikannya Omnibus Law sejak tahun lalu akan menjadi sentimen fundamental investasi paling kuat dalam jangka panjang. Bahkan, implementasi Omnibus Law juga bisa membawa Indonesia menjadi salah satu negara dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi terbaik dibandingkan negara lainnya di tahun ini.

"Fundamental jangka panjang Indonesia didukung oleh Omnibus Law, yang berpotensi memperbaiki iklim investasi Indonesia dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap komoditas," katanya.

Sebelumnya, JPMorgan, perusahaan jasa keuangan global asal AS, juga memprediksi perekonomian Indonesia akan tumbuh pada tahun depan, rupiah juga menguat, sehingga IHSG bisa melesat hingga mencapai rekor 6.800 pada akhir Desember 2021.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading