Efek Biden, Harga Emas Mulai Melesat Lagi di Atas US$ 1.850

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
21 January 2021 11:15
7月11日、米中貿易摩擦激化への懸念が高まる中、株式市場から資金が流出しているものの、通常は資金の避難先とされる金には流入していない。2008年、都内で撮影(2018年 ロイター/Issei Kato)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat Joe Biden dilantik menjadi Presiden ke-46 AS, harga emas mengalami kenaikan yang tajam. Emas bangkit setelah sekian lama tertekan. Namun harga emas sedikit mengendur hari ini, Kamis (21/1/2021).

Joe Biden telah resmi menjadi orang nomor satu di AS kemarin. Harga emas menguat ke atas US$ 1.850/troy ons. Di arena pasar spot harga emas ditutup di US$ 1.870,9/troy ons. 

Setelah melesat signifikan dalam waktu singkat biasanya harga emas diikuti dengan koreksi. Kenaikan tajam dimanfaatkan oleh sebagian trader untuk mendulang keuntungan (profit taking).


Namun banyak analis yang optimis bahwa kenaikan harga emas yang terjadi kemarin merupakan tanda-tanda akan dimulainya tren bullish emas.

Edward Moya selaku analis dari OANDA mengatakan bahwa melesatnya harga emas dipicu oleh optimisme pelaku pasar bahwa kombinasi Joe Biden dan Menteri Keuangan AS terpilih Janet Yellen akan berhasil menggelontorkan stimulus untuk perekonomian AS yang masih sekarat.

Stimulus merupakan sebuah berita bagus untuk emas. Tahun 2020 silam ketika stimulus jumbo digelontorkan oleh pemerintah dan bank sentral harga emas berhasil menguat. 

Dalam pandangan kaum monetarist injeksi likuiditas ke sistem keuangan membuat pasokan uang beredar akan bertambah banyak. Di saat yang sama pandemi Covid-19 dan lockdown membuat banyak pabrik tidak beroperasi dengan kapasitas maksimal. Sehingga ada kemungkinan besar inflasi yang tinggi bisa terjadi.

Emas merupakan salah satu aset yang memiliki kinerja tinggi dan berkorelasi positif dengan inflasi. Emas dianggap sebagai salah satu aset untuk lindung nilai terhadap inflasi.

Penurunan indeks dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi katalis positif untuk emas. Pasalnya emas merupakan aset yang tak memberikan imbal hasil. Minat investor untuk memegang emas sangat tergantung pada biaya peluang.

Era suku bunga rendah membuat yield atau imbal hasil adalah barang yang langka. Secara nominal yield boleh saja masih positif. Namun secara riil setelah dikurangi inflasi yield obligasi pemerintah negara maju sudah banyak yang negatif. Inilah yang membuat opportunity cost memegang emas menjadi rendah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading