Demand Daging Ayam Tinggi, Jadi Masuk Saham Unggas nih?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
14 January 2021 19:52
Peternak memanen telur ayam di peternakan kawasan Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/2/2020). Pemerintah resmi menaikkan harga acuan daging dan telur ayam ras untuk mengimbangi penyesuaian tingkat harga di pasar yakni harga telur ayam di tingkat peternak dinaikkan dari Rp18 ribu-Rp20 ribu per kg menjadi Rp19 ribu-Rp21 ribu per kg sedangkan daging ayam ras dinaikkan dari Rp18 ribu-Rp19 ribu per kg menjadi Rp19 ribu-Rp20 ribu per kg. Lukman 45 tahun Peternak  mengatakan kenaikan harga tersebut sebagai hal yang positif. Sebab, bila tidak hal itu tentu dirasakan merugikan. Pasalnya, saat ini nilai tukar dolar terhadap rupiah tengah menguat dan mempengaruhi berbagai hal, termasuk biaya transportasi.
 (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Peternak Ayam (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menguatnya permintaan atau demand daging ayam beserta turunannya menjadi angin segar bagi emiten yang ada di sektor perunggasan (poultry).

Hal ini diyakini juga menjadi momentum yang tepat bagi emiten di sektor ini melakukan ekspansi, termasuk bagi perusahaan yang akan melaksanakan penawaran umum saham perdana alias Initial Public Offering (IPO).

Menurut Kepala Riset Praus Kapital, Alfred Nainggolan, prospek industri perunggasan masih cukup bagus mengacu pada demand.


Kebutuhan daging ayam dan semua yang terkait di sektor unggas masih cukup kuat, bahkan pertumbuhan pendapatan emiten-emiten di sektor unggas pada tahun ini juga masih mencatatkan penguatan.

Dengan begitu ketika perusahaan atau emiten melakukan ekspansi di tengah kondisi permintaan yang masih cukup bagus ke depan.

Tentunya langkah IPO yang akan dilakukan emiten di sektor ini akan menjadi hal yang strategis, apalagi tidak semua perusahaan bisa mendapatkan dana segar di kondisi seperti ini.

"Jadi ketika mereka bisa mendapatkan momentum itu dan mereka akan ekspansi di sektor yang masih cukup prospek ini, maka akan menjadi hal yang cukup bagus untuk men-generalisasi pertumbuhannya ke depan," kata Alfred Nainggolan di Jakarta, Kamis (14/1/2021).

Alfred menambahkan, pada tahun ini pemulihan ekonomi digadang-gadang akan berada di angka 4%. Artinya ketika perusahaan ekspansi berarti mereka mempersiapkan untuk kondisi pertumbuhan ekonomi yang bagus di tahun 2022 bahkan di 2023.

Sementara itu menurut Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Hariyanto Wijaya, saham poultry ini juga relatif cukup diuntungkan dengan sentimen pemulihan di sektor perunggasan. Mirae Asset sebelumnya juga merekomendasikan tujuh saham lainnya yang berada di sektor lain seperti bank dan komoditas.

"Recovery poultry akan berlanjut," katanya, dalam pemaparan secara virtual, Rabu (13/1/2021). Mirae Asset merekomendasikan JPFA atau PT Japfa Tbk (JFPA) karena adanya pemulihan sektor unggas.

Sebagai catatan, di BEI saat ini ada empat emiten unggas dan pakan ternak serta turunannya. Keempatnya yakni PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), Japfa, dan PT Sierad Produce Tbk (SIPD) yang tahun lalu berganti nama jadi PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk.

Satu lagi calon emiten poultry akan tercatat di BEI yakni PT Widodo Makmur Unggas (WMU). Perusahaan ini bakal melaksanakan IPO dengan jadwal penawaran umum pada 7 Januari - 13 Januari 2021. Adapun, pencatatan saham di BEI dijadwalkan pada 29 Januari 2021 mendatang.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading