Sempat Ambles, Harga Batu Bara 'Ngamuk' Lagi Balik ke US$ 85

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
11 January 2021 09:25
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) kembali mewujudkan komitmennya dalam upaya hilirisasi dan peningkatan nilai tambah pertambangan batu bara. Salah satunya adalah dengan memproduksi karbon aktif dari bahan baku batu bara.

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki awal tahun baru 2021, harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal Newcastle merosot tajam. Namun tak butuh waktu lama harga si batu legam kembali mengalami kenaikan. 

Pada periode 28 Desember 2020 - 6 Januari 2021, harga kontrak yang aktif ditransaksikan di bursa berjangka tersebut turun 11,5%. Namun dalam dua hari terakhir perdagangan pekan lalu harga batu bara melesat 11,9%.

Seolah balas dendam harga batu bara kembali ke rentang level tertingginya dalam satu setengah tahun terakhir. Dalam sepekan terakhir harga batu bara masih tercatat menguat 4,05%.


Sebagai informasi, kontrak batu bara yang digunakan sebagai acuan di sini merupakan kontrak berjangka yang mengacu pada batu bara di Pelabuhan Newcastle Australia. Kontrak ini berakhir pada 26 Februari 2021. 

Kenaikan harga batu bara tak terlepas dari ketatnya pasokan domestik China yang dibarengi dengan kenaikan permintaan listrik. Akhirnya harga batu bara domestik China melesat tajam. 

Harga batu bara termal acuan Qinhuangdao 5.500 Kcal/kg di China tembus RMB 788/ton pekan lalu dan sudah melampaui rentang target yang ditetapkan oleh Pemerintah China di RMB 500 - 570 per ton.

Kurangnya pasokan batu bara domestik membuat produksi listrik tidak mencukupi kebutuhannya. Alhasil pemerintah China harus membatasi penggunaan listrik di luar jam sibuk untuk pabrik sejak pertengahan Desember dengan melakukan pemadaman.

Pemadaman listrik selama seminggu di berbagai daerah telah diberlakukan di Shenzhen, ibu kota teknologi China, yang memiliki produk domestik bruto per kapita tertinggi di negara itu. Provinsi Jiangsu Timur juga memberlakukan pembatasan listrik.

Alhasil ini mempengaruhi industri dan rumah tangga. Banyak warga yang merasakan kedinginan karena listrik padam dan banyak pengusaha gagal memenuhi target karena pabrik mati saat jam produksi.

Kendati China sudah meminta produsen batu bara lokal untuk meningkatkan produksinya serta melakukan relaksasi kebijakan impor batu baranya harga si batu legam di Negeri Panda masih belum mau turun.

Kenaikan permintaan China yang dibarengi dengan pemangkasan produksi batu bara di negara produsen membuat harga batu bara melesat tajam di tengah retaknya hubungan bilateral antara Australia dengan China.

Meski dihantam badai pandemi, produksi batu bara tahun 2020 ternyata bisa di atas target yang dipatok pemerintah sebesar 550 juta ton, yakni mencapai 557,54 juta ton.

Melihat realisasi produksi batu bara hingga akhir 2020 dan harga batu bara yang tinggi saat ini, tak menutup kemungkinan produksi batu bara pada 2021 ini juga bisa melampaui target yang ditetapkan pemerintah sebesar 550 juta ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dua Hari Terakhir Harga Batu Bara Meroket Lagi, Ini Pemicunya


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading