Wow! Harga Emas Mepet ke US$ 1.900/Oz, Berkah Stimulus AS

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
18 December 2020 09:27
FILE PHOTO: An employee shows gold bullions at Degussa shop in Singapore June 16, 2017. REUTERS/Edgar Su/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas ditutup melesat lebih dari 1% pada perdagangan kemarin. Pagi ini (18/12/2020) harga emas terkoreksi tetapi masih berada di rentang tertingginya dalam satu bulan terakhir. 

Di arena pasar spot, harga emas dunia dibanderol di US$ 1.881/troy ons pada 08.50 WIB atau melemah 0,24% dibanding penutupan kemarin. Namun harga emas sudah semakin mendekati level psikologis US$ 1.900/troy ons.


Setelah mencapai level tertingginya sepanjang sejarah pada Agustus lalu, harga emas melorot bahkan anjlok. Prospek kebijakan stimulus fiskal AS yang simpang siur membuat harga emas drop. Ada outflow besar-besaran dari Exchange Traded Fund (ETF) dengan underlying emas.

Banyak yang khawatir jatuhnya harga emas di bulan Agustus akan mengawali mimpi buruk yang terjadi pada 2013 silam. Namun para analis memandang bahwa jatuhnya harga emas pada Agustus hanyalah koreksi sehat.

Hal ini diakibatkan oleh adanya risiko ketidakpastian yang masih tinggi di tahun depan. Meskipun vaksin Covid-19 diperkirakan sudah tersedia dan siap didistribusikan, bukan berarti bahwa ekonomi akan langsung pulih. 

Alokasi portofolio tradisional 60/40 (60% saham dan 40% obligasi) diyakini masih tidak akan menghasilkan kinerja yang baik. Investor kemungkinan masih akan mengalokasikan 10% dari asetnya untuk emas. 

Emas masih memiliki fundamental yang bagus. Tentunya ditopang dengan kebijakan moneter yang akomodatif, suku bunga riil yang rendah hingga adanya risiko inflasi tinggi di masa mendatang. 

Sentimen positif datang dari eksternal, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menegaskan akan terus melanjutkan program pembelian aset (quantitative easing/QE) dengan nilai setidaknya US$ 120 miliar per bulan "sampai ada perbaikan substansial menuju target pasar tenaga kerja full employment serta stabilitas harga".

Artinya kebijakan moneter ultra longgar masih akan dipertahankan dalam waktu yang lama, sampai pasar tenaga kerja AS kembali mencapai full employment dan inflasi konsisten di atas 2%.

Di sisi lain, stimulus fiskal di AS juga sepertinya akan cair dalam waktu dekat. Para pemimpin dari Partai Demokrat dan Republik di House of Representatif (DPR) dan Senat AS masih melakukan perundingan.

"Saya optimistis kita bakal bisa mencapai pemahaman dalam waktu dekat," tutur Pimpinan Mayoritas Senat dari Partai Republik, Mitch McConnel, pada Selasa malam setelah pertemuan tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading