Asa Stimulus Muncul Lagi, Wall Street Naik Tipis di Pembukaan

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
03 December 2020 21:55
Trader Gregory Rowe, right, works on the floor of the New York Stock Exchange, Wednesday, Dec. 11, 2019. Stocks are opening mixed on Wall Street following news reports that US President Donald Trump might delay a tariff hike on Chinese goods set to go into effect this weekend. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menghijau pada perdagangan Kamis (3/12/2020), di tengah ekspektasi bahwa stimulus pandemi masih akan dikeluarkan sebelum pelantikan Joe Biden sebagai presiden baru.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 29 poin (+0,1%) pada pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB) dan 20 menit kemudian menjadi 65,7 poin (+0,22%) ke 29.949,49. S&P 500 naik 2,4 poin (+0,06%) ke 3.671,39 dan Nasdaq tumbuh 47,4 poin (+0,38%) ke 12.396,78.

AS saat ini memiliki 100.000 pasien Corona, menurut data Covid Tracking Project, jauh lebih tinggi dari gelombang pertama pada musim panas. Sebanyak 2.800 orang meninggal akibat virus mematikan tersebut.


Menghadapi efek pandemi ke ekonomi, Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan pimpinan minoritas Senat Chuck Schumer merilis pernyataan bersama mendesak Partai Republik untuk bekerja-sama menyiapkan dana bantuan pandemi, menggunakan proposal Senat sebagai pijakan awal.

Namun, pimpinan mayoritas Senat Mitch McConnell menolak proposal senilai US$ 908 miliar tersebut, dan ngotot bahwa nilai stimulus putaran selanjutnya semestinya di bawah US$ 500 miliar.

"Pimpinan Partai Demokrat terlihat telah mengendur terkait nilai paket stimulus fiskal yang mencapai triliunan dolar, memperkuat pertaruhan bahwa kesepakatan akan tercapai sebelum akhir tahun," tutur Jan Hatzius, Kepala Ekonom Goldman Sachs AS, dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Pada Rabu, Inggris menjadi negara pertama yang memberikan persetujuan darurat untuk vaksin produksi Pfizer dan BioNTech. Regulator di AS dan Eropa juga segera membuat keputusan mengenai vaksin yang sama dan juga vaksin produksi Moderna.

Namun, peredaran vaksin secara global bakal membutuhkan waktu berbulan-bulan karena perusahaan farmasi harus mendongkrak produksinya, sementara AS bakal memasuki musim dingin yang bisa memperburuk penyebaran Covid-19.

Data awal klaim pengangguran menunjukkan pekan lalu hanya ada 712.000 klaim tunjangan pengangguran baru, lebih naik dari konsensus ekonom dalam survei Dow Jones yang memperkirakan 780.000 klaim baru.

Data ketenagakerjaan yang lebih menyeluruh bakal dirilis pada Jumat, oleh Departemen Tenaga Kerja AS, di mana Dow Jones memperkirakan akan ada 440.000 lapangan kerja baru dan angka pengangguran di level 6,7%.

Di sisi lain, ketegangan dengan China mengemuka setelah DPR AS secara mufakat meloloskan aturan yang memaksa perusahaan China tunduk pada standard audit AS jika ingin mencatatkan sahamnya di Negeri Sam. Aturan itu kini tinggal diteken Presiden AS Donald Trump.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading