Lockdown Dikhawatirkan Kian Marak, Wall Street Dibuka Merah

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
19 November 2020 22:00
Specialist David Haubner, left, talks with a colleague as they work on the floor of the New York Stock Exchange, Wednesday, Jan. 30, 2019. Fed officials ended a two-day meeting on Wednesday by keeping the federal funds rate — what banks charge each other — at a range of 2.25 to 2.50 percent. (AP Photo/Richard Drew) Foto: Bursa New York (AP Photo/Richard Drew))

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka terpelanting ke zona merah pada perdagangan Kamis (19/11/2020), menyusul data pengangguran yang buruk di tengah kenaikan kasus Covid-19.

Indeks Dow Jones Industrial Average drop 99,5 poin (-0,3%) pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB) dan 25 menit kemudian menipis menjadi 9,8 poin (-0,03%) ke 29.428,63 sedangkan indeks S&P 500 drop 1,5 poin (-0,04%) ke 3.566,32. Namun, Nasdaq naik 25,5 poin (+0,22%) ke 11.827,12 setelah sempat dibuka merah.

Indeks saham sektor utilitas dan keuangan menjadi yang berkinerja terburuk dengan anjlok masing-masing sebesar 0,9% dan 0,8%.


Jika berlanjut hingga penutupan, koreksi ini bakal memperpanjang perjalanan Wall Street d jalur merah setelah kemarin indeks Dow Jones anjlok 345 poin, atau -1,2%, di penutupan. Indeks S&P 500 drop 1,2%, sedangkan Nasdaq tersuruk 0,8%.

Kabar positif Pfizer seolah tak berarti. Sebelumnya, perusahaan farmasi AS ini mengumumkan bahwa analisis final menunjukkan bahwa vaksinnya memiliki tingkat efektivitas 95% dan perseroan berencana mengajukan izin edar beberapa hari ke depan.

Laporan riset AstraZeneca dan University of Oxford hari ini juga menunjukkan bahwa vaksin corona besutan mereka masih aman dan memicu antibodi di tubuh orang dewasa. Namun, studi yang dipublikasikan di jurnal The Lancet tersebut gagal mendorong sentimen pasar.

Laporan CNBC Analysis menyebutkan bahwa AS mencatatkan rerata harian infeksi baru Covid-19 pada Rabu kembali mencetak rekor tertinggi baru menjadi 161.165, atau melesat 26% dalam sepekan.

"Kabar buruk Covid terkait kenaikan karantina wilayah [terutama di New York dan Los Angeles] mulai menutup optimisme vaksin, dan itu memperberat saham," tutur Tom Essaye, pendiri The Seven Report, sebagaimana dikutip CNBC International.

Saat ini, lanjut dia, ada risiko restriksi ekonomi terbesar sejak musim panas, sehingga bakal menekan perekonomian dan kinerja emiten. Sebanyak 11,5 juta warga AS terkonfirmasi positif, sehingga mendorong kebijakan pengetatan aktivitas ekonomi dan sosial di beberapa wilayah.

Pada Rabu, Walikota New York Bill de Blasio mengumumkan penutupan sekolah negeri digantikan dengan belajar-dari-rumah sebagai upaya untuk menekan penyebaran virus corona jelang musim dingin. Kebijakan ini bakal diikuti pemerintah negara bagian yang lain.

Sentimen buruk juga datang dari Departemen Tenaga Kerja AS yang melaporkan bahwa ada 742.000 warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran sepekan lalu, atau lebih buruk dari konsensus analis dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 710.000.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading