Harga Minyak Dunia Melesat Pas Pilpres AS, Ada Apa Ini?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
04 November 2020 11:05
Demonstrators gather outside the White House, Tuesday, Nov. 3, 2020, in Washington. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Usai menjadi bulan-bulanan di pasar harga minyak mentah berjangka berhasil rebound. Pada perdagangan kemarin harga emas hitam ditutup di zona apresiasi. Hari ini Rabu (4/11/2020) harga minyak lanjut reli. 

Pada 09.45 WIB, harga kontrak futures minyak mentah melesat lebih dari 1%. Kontrak acuan internasional Brent naik 1,01% ke US$ 40,11/barel dan kontrak patokan Amerika Serikat (AS) yakni West Texas Intermediate (WTI) naik 1,12% ke US$ 38,08/barel.


Harga minyak sempat anjlok lebih dari 10% minggu lalu. Pemicunya apalagi kalau bukan lonjakan kasus infeksi virus corona di seluruh dunia. Akibat kenaikan kasus yang signifikan, banyak negara yang kembali melakukan pembatasan.

Kasus banyak dijumpai di Amerika Utara dan Eropa. Negara-negara Benua Biru sudah mengambil langkah tegas. Prancis misalnya yang kembali menerapkan lockdown secara nasional.

Pengetatan pembatasan publik juga dilakukan di Jerman, Inggris, Italia, Norwegia hingga Hungaria. Masifnya pembatasan mobilitas publik membuat prospek permintaan terhadap bahan bakar menjadi suram.

Apalagi di saat yang sama, pasar justru terancam kebanjiran pasokan dari Libya. Produksi minyak Libya diperkirakan bakal mencapai level 1 juta barel per hari (bpd) dalam waktu dekat. 

Sebelum ladang minyak terbesarnya diblokir, output minyak Libya mencapai 1,2 juta bpd. Saat diblokir output drop signifikan ke bawah 200 ribu bpd. Pemulihan output yang cepat membuat harga minyak tertekan. 

Di sisi lain pasar juga terus mencermati kontestasi politik rutin empat tahun sekali di AS. Pemilihan umum presiden di AS tengah berlangsung. Hasil pemilu yang masih abu-abu dan belum bisa diketahui dalam waktu dekat membuat risiko ketidakpastian meningkat.

Pada perhelatan akbar pemilu tahun ini kontestannya ada dua, Trump dari Republik sebagai petahana dan Joe Biden dari Demokrat sebagai penantang. Biden yang merupakan mantan wakil presiden AS era Barrack Obama mengusung kebijakan energi alternatif dan tidak pro terhadap bahan bakar fosil.

Terpilihnya Biden dalam pilpres kali ini akan membuat pasar minyak bereaksi negatif. Harga minyak pun bisa terpangkas. Namun sentimen positif di pasar yang mampu mengerek harga minyak kali ini datang dari stok minyak Negeri Paman Sam. 

Stok minyak mentah AS dilaporkan oleh asosiasi industri (API) turun tajam minggu lalu. Stok minyak mentah turun 8 juta barel pekan lalu menjadi sekitar 487 juta barel, mengacu pada data API.

Laporan API itu kontras dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan bakal terjadi kenaikan sebanyak 890.000 barel. Menambah sentimen positif ada anggota dari organisasi negara-negara eksportir minyak (OPEC) yakni Aljazair yang mendukung penundaan peningkatan produksi mulai Januari tahun depan. 

OPEC dan koleganya termasuk Rusia yang dikenal dengan OPEC+ sepakat untuk memangkas produksi 7,7 juta bpd atau setara dengan hampir 8% output global sampai Desember.

Mengacu pada pakta tersebut, mulai awal tahun depan volume pemangkasan minyak bakal diturunkan ke 5,7 juta bpd. Namun dengan adanya kondisi pasar masih terancam kelebihan pasokan, OPEC+ ditekan setidaknya untuk memperpanjang periode pemangkasan dengan volume yang lebih besar.

Sumber yang dikutip Reuters mengatakan OPEC dan Rusia sedang mempertimbangkan pengurangan produksi yang lebih besar tahun depan untuk mendukung harga. Hal inilah yang menyebabkan harga minyak rebound dan berhasil kembali sentuh level US$ 40/barel untuk Brent.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading