Joss! 4 Bank Ini Kebal Corona, Ternyata Ini Rahasianya

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
02 November 2020 08:25
Ilustrasi Uang

Jakarta, CNBC Indonesia - Tak bisa dipungkiri sektor perbankan memang menjadi salah satu sektor yang sedang berjuang pada tahun 2020 ini. Meski memang tahun ini memang bukanlah tahun yang baik bagi pasar modal, sektor perbankan harus bekerja ekstra keras dibandingkan dengan sektor lain karena terkena pukulan ganda.

Pukulan pertama dan terutama tentunya datang dari dampak serangan Covid-19. Di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi tentunya tingkat utang yang berpotensi default alias gagal bayar akan meningkat dan akan memperkeruh angka Non-Performing Loan (NPL) alias kredit bermasalah.

Apalagi tingkat kredit yang direstrukturisasi perbankan nasional cukup juga bukan angka yang kecil. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat realisasi restrukturisasi per 28 September 2020 yang dilakukan oleh 100 bank telah menembus Rp 904,3 triliun.


Selain itu pemberian kredit yang merupakan urat nadi perbankan juga akan terhambat karena tentunya dengan adanya nCov-19 maka perusahaan yang mampu bertahan akan ragu dalam berekspansi, dan daya beli masyarakat tergerus yang menyebabkan kredit korporasi dan kredit konsumsi akan terganggu.

Tak hanya dari virus corona yang menyerang segala sektor, pukulan kedua yang spesifik untuk sektor perbankan datang dari OJK.

Seperti kita ketahui mulai tahun 2020 ini perbankan diharuskan oleh OJK untuk menerapkan standar akuntansi baru PSAK 71.

Standar yang mengacu kepada International Financial Reporting Standard (IFRS) 9 ini menggantikan PSAK sebelumnya yakni PSAK 55. Dalam PSAK baru ini, poin utamanya ialah pencadangan atas penurunan nilai aset keuangan berupa piutang, pinjaman, atau kredit.

Dengan aturan baru ini,
perbankan harus menyediakan cadangan kerugian atas penurunan nilai kredit (CKPN) bagi semua kategori pinjaman, baik yang kredit lancar (performing), ragu-ragu (underperforming), maupun macet (non-performing). Kondisi ini tentu dinilai akan memberikan pencadangan yang lebih besar dari sebelumnya.

Dengan diberlakukanya PSAK 71, aturan pencatatan baru ini akan sangat mempengaruhi laba bank, karena kategori pinjaman akan turun dan pencadangan akan naik.

Hal inilah yang menyebabkan bahkan sebelum diserang pandemi virus corona, banyak pihak yang beranggapan bahwa tahun 2020 bukanlah tahun yang baik bagi sektor perbankan karena laba perbankan akan tergerus.

Apalagi ditambah dengan kehadiran virus corona yang tentunya akan berimbas pada tingkat pencadangan dan menekan laba bersih.

Meskipun sektor perbankan menjadi salah satu sektor yang babak belur diserang pandemi corona, siapa kira akan muncul beberapa perbankan 'jagoan'dari sektor ini.

Bank-bank 'jagoan' ini bukan hanya berhasil mencetak laba di 9 bulan pertama tahun 2020, akan tetapi laba bersihnya juga berhasil tumbuh dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu

Hal ini tentu saja menunjukkan perbankan ini tidak begitu terdampak oleh Covid-19 alias kebal corona.

Siapa sajakah bank-bank ini dan apa rahasia bank-bank 'jagoan' ini? Simak tabel berikut.

Kinerja Bank yang Cetak Pertumbuhan Laba 9M2020

Adalah PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) yang memimpin kenaikan laba bersih sektor perbankan pada 9 bulan pertama di tahun 2020 ini atau per September 2020.

Tercatat BBHI berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 48,39 miliar dalam 9 bulan terakhir (9M20) dan berhasil tumbuh 821% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (YoY).

Akan tetapi ternyata penyokong pendapatan utama BBHI pada 9M20 ini sejatinya datang dari pengembalian cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) aset keuangan dan aset non-keuangan sehingga pendapatan BBHI belum bisa dikatakan sustainable.

Bahkan apabila menilik Net Interest Income-nya atau pendapatan bunga bersih, yang biasanya merepresentasikan sebagian besar laba operasional ternyata pendapatan BBHI dari bunga bank terpaksa turun 47% pada 9M20 ini secara YoY.

Di posisi kedua muncul nama bank yang sedang 'hot' diperdagangkan karena sebentar lagi akan melakukan aksi korporasi merger.

Ya, ternyata PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) juga masuk ke dalam jajaran bank-bank perkasa yang laba bersihnya mampu tumbuh di tengah pandemi.

Sistem pengelolaan risiko bank syariah yang berbeda dengan bank konvensional tentunya menjadi salah satu senjata BRIS untuk bertumbuh di tengah pandemi dengan catatan total laba bersih sebesar Rp 190,58 miliar.

"Peningkatan laba bersih BRISyariah di triwulan III 2020didukung oleh optimalisasi fungsi intermediasi yang diikuti dengan pengendalian beban biaya dana," jelas Direktur Utama BRIS Ngatari, dalam siaran persnya, Senin (26/10/2020).

Secara rinci, pada triwulan III 2020, komposisi pembiayaan konsumer menjadi yang dominan dalam penyaluran pembiayaan di BRISyariah.

Pembiayaan konsumer ini menjadi salah satu fokus penyaluran pembiayaan BRIsyariah karena memiliki risiko yang rendah. Hal ini dikarenakan pembiayaan konsumer ini berdasarkan asset based (KPR) dan Salary Based (pembiayaan multi guna).

Ngatari melanjutkan, salah satu pendorong pertumbuhan pembiayaan BRISyariah di masa pandemi ini adalah digitalisasi proses pembiayaan lewat aplikasi i-Kurma.

Perseroan mengoptimalkan i-Kurma sebagai langkah transformasi digital dalam proses pembiayaan. Ini terbukti efektif dalam meningkatkan kinerja BRISyariah, mengingat tenaga pemasar pembiayaan dimungkinkan untuk bekerja secara efektif dan efisien di tengah adaptasi kebiasaan baru pada masa pandemi corona.

Tidak mau kalah, salah satu perbankan pelat merah lain juga mampu bertumbuh di tengah serangan nCov-19. Adalah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang pada 9M20 ini laba bersihnya terbang 39% secara YoY.

Tercatat pada periode ini BBTN berhasil mencetak laba sebesar Rp 1,02 triliun.

Akan tetapi kenaikan laba bersih BBTN ini ternyata dikarenakan pada tahun 2019 kuartal ketiga BBTN membukukan rugi bersih yang cukup parah, sehingga terjadi low base effect. Jadi, saat tahun sebelumnya sebuah perusahaan membukukan rugi bersih, dan tahun selanjutnya berhasil membukukan keuntungan, maka secara YoY laba bersih akan terlihat melesat.

Dengan demikian, apabila menilik Net Interest Income-nya yang biasanya merepresentasikan sebagian besar laba operasional ternyata pendapatan BBTN dari bunga bank terpaksa turun 3% pada 9M20 ini secara YoY.

Penurunan laba bersih tahun lalu sendiri terjadi karena peningkatan pencadangan, dan 'bersih-bersih' kredit karena kualitas yang memburuk.

"Ada beberapa faktor. Beratnya tantangan 2019 membuat BTN bebenah. Kita lakukan beberapa aksi salah satunya pencadangan untuk memperbaiki kinerja ke depan,' kata Direktur Keuangan BTN Nixon Napitupulu saat berbincang dengan media di Jakarta, Minggu (16/2/2020).

Kenaikan rasio pencadangan BBTN terpaksa meningkat karena perseroan sudah mulai menerapkan PSAK 71 dalam laporan keuangan perseroan sejak 2019.

"CKPN pada PSAK 71 harus dipenuhi hampir Rp 3 triliun. Ini juga salah satu faktor laba kita menurun. Kita bentuk cadangan dahulu tahun 2019," katanya. "Jika melihat laba sebelum CKPN, maka pada 2019 laba BTN Rp 4,0 triliun," lanjut Nixon.

Terakhir, muncul nama PT Bank Pembangunan Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) atau Bank BJB yang baru saja memenangkan penghargaan CNBC Indonesia Award dikategori Strongest Regional Bank.

Ternyata kuatnya BJBR bertahan di tengah pandemi Covid-19 memang bukan isapan jempol belaka. Tercatat BJBR berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,28 triliun pada 9M20 atau meningkat 6% secara YoY.

Kenaikan laba BJBR secara YoY tentunya tidak bisa lepas dari kemampuan perseroan menjaga rasio kredit macet alias Non Performing Loan (NPL) tetap rendah di angka 1,50%.

Dengan rendahnya NPL maka pencadangan yang perlu dilakukan perseroan tidak perlu sebanyak perbankan lain yang NPL-nya bengkak.

Ciamiknya data NPL tidak lepas dari klien Bank BJB terutama untuk sektor kredit konsumsi yang notabene adalah dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga cicilan kredit bisa langsung diamankan ketika pembayaran gaji dan hal ini tentu saja membantu menjaga NPL tetap apik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading