Yes! Ngidam Ada Happy Weekend Kesampaian Juga, IHSG Naik 1%

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
17 October 2020 14:10
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 12 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,01% ke 4.895,75. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara (trading halt) setelah  Harga tersebut ke 4.895,75 terjadi pada pukul 15.33 WIB.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seminggu terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja yang positif. IHSG berhasil mencatatkan apresiasi nyaris 1%. Indeks saham Benua Kuning lain yang juga menguat bersama IHSG ada Hang Seng, Shang Hai Composite dan Vietnam Index.

Dalam lima hari perdagangan pekan ini, IHSG mampu finish di zona hijau sebanyak tiga kali di tiga hari perdagangan pertama, kemudian ambles di hari keempat dan kelima.

IHSG berakhir di level 5.103,414. Secara week on week, indeks saham utama Tanah Air mencatatkan apresiasi sebesar 0,98%. Asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar 590,4 miliar di seluruh pasar. 


Aksi jualan oleh asing ini tidak sebesar seperti pekan-pekan yang sebelumnya yang posisi net sell-nya bisa mencapai angka triliunan rupiah. Kabar baik dan buruk datang silih berganti baik dari dalam maupun luar negeri. 

Pada 13 Oktober lalu, Bank Indonesia (BI) mengumumkan tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate di angka 4%. Fokus BI tetap tidak berubah yaitu menitikberatkan pada stabilitas nilai tukar. 

Namun dalam pemaparan kebijakan moneternya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan suatu berita baik. Bank sentral Tanah Air tersebut memperkirakan transaksi berjalan RI yang selama ini defisit akan berubah menjadi surplus.

Apabila ramalan BI tersebut terwujud, maka ini menjadi pertama kalinya sejak kuartal terakhir tahun 2011 neraca transaksi berjalan mencatatkan surplus. 

"Transaksi berjalan pada kuartal III-2020 diperkirakan akan mencatat surplus. Dipengaruhi oleh perbaikan ekspor dan penyesuaian impor sejalan dengan permintaan domestik yang belum cukup kuat," ungkap Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usar Rapat Dewan Gubernur Periode September 2020, Selasa (13/10/2020).

Pasar juga menyambut positif kabar yang menyebutkan bahwa RI siap melaksanakan vaksinasi Covid-19 lebih awal yakni bulan November setelah mengantongi komitmen dari tiga pengembang vaksin China yaitu Sinovac, Sinopharm dan CanSino Biological Inc untuk memasok vaksin buatan mereka ke Tanah Air mulai bulan depan.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto vaksin Sinovac, CanSino, dan G42/Sinopharm sudah selesai uji klinis fase 3 di beberapa negara dan telah mendapatkan izin emergency use (penggunaan darurat) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) China.

Khusus vaksin CanSino uji klnis akan selesai September 2020 dan sudah mendapat izin penggunaan darurat dari Pemerintah China dan Kanada. Vaksin ini juga sudah disuntik ke tentara China dan petugas kesehatan.

Pada 15 Oktober 2020, BPS melaporkan neraca dagang RI mencatatkan surplus sebesar US$ 2,44 miliar di bulan September. Di akhir kuartal ketiga perdagangan internasional Tanah Air mengalami perbaikan.

Ekspor naik 6,97% dibanding bulan Agustus dan impor pun sudah mulai terkerek dengan kenaikan sebesar 7,71% dibanding bulan sebelumnya. 

Perdagangan pasar pekan ini juga diwarnai dengan sentimen seputar aksi korporasi berupa merger tiga bank syariah anak usaha BUMN yaitu Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah dan BRI Syariah (BRIS). 

Aksi korporasi tersebut membuat saham BRIS melesat tajam dengan apresiasi 63,16% dan menjadi salah satu saham top gainers untuk pekan ini. Kenaikan itu pun terjadi setelah BRIS sempat mengalami auto reject bawah (ARB) sampai dua kali. 

Dari luar negeri, sentimen negatif datang dari AS yang dan Benua Biru. Di AS negosiasi RUU stimulus ekonomi Covid-19 lanjutan kembali mandek dan kabarnya tak akan ada kesepakatan dalam waktu dekat sebelum pemilu AS yang digelar November nanti usai. 

Masih ada perbedaan seputar besaran stimulus yang diajukan oleh para pemangku kebijakan AS yang terdiri dari pemerintah yakni Donald Trump sebagai presiden, Partai Republik dan Partai Demokrat. 

Dari Benua Biru, lonjakan kasus yang terjadi di Eropa membuat sebagian negara seperti Inggris, Perancis hingga Polandia kembali menghadapi kondisi darurat dan memutuskan untuk memperketat mobilitas publiknya. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading