Dua Hari Terakhir Harga Batu Bara Meroket Lagi, Ini Pemicunya

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
16 October 2020 12:08
Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak yang ramai ditransaksikan di pasar futures menguat lagi pada perdagangan kemarin. Sampai sekarang masih belum ada kejelasan seputar rumor yang beredar terkait China yang memboikot impor batu bara Australia. 

Kamis (15/10/2020), harga batu bara ditutup naik 2,27% ke level US$ 56,4/ton. Pada perdagangan sebelumnya harga batu bara ditutup di US$ 55,15/ton.


Pekan ini beredar kabar yang tak sedap. China sebagai salah satu konsumen dan importir batu bara terbesar di dunia disebut memboikot impor batu bara dari Negeri Kanguru. 

Belum ada klarifikasi resmi dari Beijing sampai saat ini. Pihak Australia masih menyelidiki terkait rumor ini. Perdana Menteri Negeri Kanguru, Scott Morison mengatakan langkah pembatasan kuota impor memang lazim dilakukan oleh China.

Reuters mengabarkan, laporan Kementerian Perindustrian menyebut bahwa beberapa pelabuhan di China tidak menerima lagi impor batu bara termal dan metalurgi dari Australia.

Meskipun rumor tersebut masih belum jelas dan sempat membuat harga batu bara anjlok 6,51% dalam sehari, pada dasarnya China juga tengah menghadapi masalah yang serius.

Pasokan batu bara domestik yang ketat membuat harganya melonjak tinggi. Reuters melaporkan harga batu bara termal Qinhuangdao berkalori 5.500 Kcal/Kg minggu lalu dipatok di RMB 618/ton. Padahal di minggu sebelumnya harga masih di level RM 612/ton.

Artinya harga batu bara domestik China masih terus menguat. Bahkan dengan level saat ini, harga batu bara telah keluar dari 'zona hijau'. Sebagai informasi pemerintah China menetapkan rentang level harga batu bara domestiknya di RMB 500 - RMB 570 per ton. Rentang harga tersebut kemudian dinamai zona hijau.

Zona hijau merepresentasikan rentang harga di mana tidak membuat penambang tertekan kondisi finansialnya dan juga marjin laba perusahaan utilitas tergerus.

Dalam kondisi normal, kenaikan harga batu bara domestik yang tinggi ini akan membuat pelaku pasar, importir dan perusahaan utilitas Negeri Panda beralih ke batu bara impor karena harganya lebih murah. 

Di saat yang sama pula stok batu bara di pelabuhan Qinhuangdao juga mengalami penurunan dua pekan berturut-turut. Data terbaru Refinitiv menunjukkan persediaan batu bara termal di pelabuhan tersebut turun 1,4% (wow) menjadi 4,95 juta ton saja. 

Pada akhirnya harga batu bara domestik China yang tinggi dan selisih (spread) yang melebar dengan batu bara impor membuat harga batu bara lain ikut terkerek naik. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading