Siap-siap! Harga Batu Bara Bakal Tembus US$ 60/ton

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
25 September 2020 11:04
FILE PHOTO: A worker speaks as he loads coal on a truck at a depot near a coal mine from the state-owned Longmay Group on the outskirts of Jixi, in Heilongjiang province, China, October 24, 2015. REUTERS/Jason Lee/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara masih terus mengalami kenaikan. Pada perdagangan Kamis kemarin (24/9) harga kontraknya untuk batu bara termal Newcastle ditutup menguat dan semakin mendekati level psikologis US$ 60/ton.

Harga batu bara mulai bangkit sejak 8 September lalu.

Terhitung dalam 2 minggu terakhir harga batu bara telah melesat 19,8%. Kemarin harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak yang ramai diperjualbelikan ditutup menguat ke US$ 59,8/ton dan menjadi harga tertinggi sejak 8 April 2020.


Beberapa sentimen positif yang turut mendongkrak harga batu bara lebih tinggi adalah kemungkinan pelonggaran kuota impor China. Ketatnya pasokan Negeri Tirai Bambu membuat harga batu bara domestiknya melonjak tinggi.

Selisih harga batu bara patokan China untuk nilai kalori yang sama  dengan batu bara Newcastle bahkan melebar dan sempat menyentuh level tertingginya di bulan ini. Spread untuk kedua jenis batu bara bahkan hampir menyentuh level US$ 40/ton.

Tingginya harga batu bara China tentu membuat perusahaan utilitas Negeri Panda harus merogoh kocek yang lebih besar untuk membeli batu bara guna mengoperasikan pembangkit listrik miliknya. 

Namun rendahnya harga batu bara lintas laut (seaborne) membuat China mulai beralih mengimpor guna tetap menjaga margin. Otoritas China terus berupaya menangani masalah ini dengan mendorong produksi batu bara domestik lebih tinggi agar sama-sama tidak menekan kinerja keuangan penambang maupun perusahaan setrumnya.

Kabar positif lain yang cukup mendongkrak harga batu bara adalah perusahaan semen India yang berencana beralih ke batu bara dari petroleum coke (petcoke). Petcoke merupakan salah satu produk aktivitas kilang minyak.

Ketatnya suplai petcoke ini dipicu oleh aktivitas kilang minyak yang masih rendah seiring dengan lemahnya permintaan minyak global akibat pandemi virus corona. Petcoke lebih dipilih untuk industri semen karena memiliki nilai kalori yang lebih tinggi dan kandungan abu yang lebih rendah dibanding batu bara.

Adanya potensi perusahaan semen India yang beralih dari petcoke ke batu bara merupakan sentimen positif untuk batu bara karena bisa mendongkrak permintaan batu legam tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading