Diterpa Kabar Buruk, Harga SBN Mixed Cenderung Melemah

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
22 September 2020 17:39
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi negara pada perdagangan Selasa (22/9/2020) ditutup bervariasi, di tengah serbuan sentimen negatif yang mendominasi pasar seperti karantina wilayah (lockdown) Eropa dan ramalan buruk ekonomi nasional.

Tercatat harga obligasi negara atau Surat Berharga Negara (SBN) tenor 1, 15 dan 20 tahun mengalami penguatan hari ini. Sebaliknya, SBN tenor 5, 10 dan 30 tahun mengalami pelemahan harga.

SBN tenor 1, 15 dan 20 tahun ramai dikoleksi investor, ditandai dengan penurunan imbal hasil (yield). Sedangkan SBN berjatuh tempo 5, 10 dan 30 tahun cenderung dilepas investor, ditandai dengan penguatan yield.


Sementara itu, yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan acuan yield obligasi negara mengalami penguatan 1,3 basis point ke level 6,890%. Dengan kata lain, harganya melemah.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penguatan yield menunjukkan harga obligasi yang turun. Demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Sentimen negatif yang membuat pergerakan harga dan yield SBN cenderung mixed di antaranya berasal dari Eropa. Inggris kabarnya akan kembali melakukan lockdown akibat jumlah kasus infeksi virus corona (Covid-19) yang melonjak.

CNBC International yang mengutip BBC melaporkan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dikabarkan mempertimbangkan untuk kembali lockdown untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Rencana tersebut kembali mengemuka setelah Inggris melaporkan lebih dari 4.000 kasus baru virus corona pada hari Minggu lalu. Sejauh ini, pemerintah Inggris telah memerintahkan penutupan kelab malam dan restoran pukul 10:00 malam.

Inggris tidak sendirian. Banyak negara Eropa mengalami peningkatan kasus yang signifikan setelah kebijakan lockdown dilonggarkan.

Sentimen kedua dari skandal bank-bank global yang terungkap dalam FinCEN Files. Dokumen berisi 2.500 halaman itu berisikan file yang dikirim bank-bank ke otoritas Amerika Serikat (AS) antara tahun 2000 sampai 2017.

Di dalamnya terdapat skandal penggelapan dana hingga pengemplangan pajak dari lembaga keuangan besar dunia. Nilainya mencapai US$ 2 triliun atau sekitar Rp 28.000 triliun. Sejumlah bank disebut yakni HSBC, Standard Chartered Bank, Deutsche Bank, JPMorgan, Bank of New York Mellon, Deutsche Bank dan Barclays Bank.

FinCEN sendiri merupakan akronim dari Jaringan Investigasi Kejahatan Keuangan AS. Mereka berisi orang-orang di Departemen Keuangan Negeri Paman Sam yang bertugas memerangi kejahatan keuangan.

Adapun sentimen di dalam negeri, yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan ramalan buruk terjadi di kuartal III-2020.

"Kemenkeu yang tadinya melihat ekonomi kuartal III minus 1,1% hingga positif 0,2%, dan yang terbaru per September 2020 ini minus 2,9% sampai minus 1,0%. Negatif teritori pada kuartal III ini akan berlangsung di kuartal IV. Namun kita usahakan dekati nol," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita September, Selasa (22/9/2020).

Untuk diketahui ekonomi kuartal I-2020 masih positif di 2,97% sementara ekonomi di kuartal II-2020 minus 5,32%. Jika terjadi dua kuartal berturut-turut ekonomi negatif atau kontraksi maka Indonesia masuk resesi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading