Jangan Ketinggalan! Emas Diramal Mantul ke US$ 2.000 Lagi nih

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
16 September 2020 10:15
FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo Foto: Emas Batangan ditampilkan di Hatton Garden Metals, London pada 21 July 2015 (REUTERS/Neil Hall/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat ini semua mata tertuju kepada bank sentral Amerika Serikat (AS), the Fed. Dini hari nanti otoritas moneter paling berpengaruh di dunia itu akan mengumumkan kebijakannya yang akan mempengaruhi pergerakan harga emas.

Pagi ini Rabu (16/9/2020), harga emas dunia di pasar spot agak kalem. Harga logam kuning itu menguat tipis 0,07% ke US$ 1.957/troy ons pada 09.00 WIB. Tidak hanya harga emas saja yang anteng, indeks dolar pun demikian.


Dolar AS dan emas bergerak berlawanan arah. Keduanya memiliki catatan historis panjang. Selain itu, harga emas juga dibanderol dalam mata uang Negeri Paman Sam, sehingga ketika dolar AS menguat otomatis harga emas akan jadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Belakangan ini dolar AS cenderung melemah menunggu keluarnya kebijakan moneter the Fed. Bank sentral Negeri Paman Sam itu sebelumnya mengatakan mematok rata-rata inflasi di angka 2%.

Namun dalam keterangannya bos the Fed Jerome Powell mengungkapkan bakal membiarkan inflasi naik di atas 2% asalkan kenaikannya moderat dan secara rata-rata inflasi masih di angka sasaran tersebut.

The Fed juga diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya yang saat ini sudah mendekati nol persen untuk waktu yang cukup lama.

Stance kebijakan moneter yang longgar ini membuat dolar melemah. Inflasi akan mendevaluasi nilai mata uang. Emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi menjadi menarik perhatian. Sentimen positif ini mendongkrak minat beli emas sekaligus harganya.

"Ada lebih banyak optimisme karena investor berpikir bahwa suku bunga rendah yang kami miliki dapat berlanjut selama tiga tahun lebih ke depan; itu sangat bullish untuk emas," kata Michael Matousek, kepala pedagang di Investor Global AS, mengutip Reuters.

Emas memang susah naik lagi ke US$ 2.000/troy ons akibat fluktuasi dolar AS. Namun prospek jangka panjang logam mulia ini masih tetap sama dan tak berubah.

Stimulus besar-besaran pemerintah dan bank sentral yang belum pernah terjadi sebelumnya, risiko pandemi tak kunjung usai yang membuat perekonomian menjadi sengsara, hingga tensi geopolitik tinggi AS-China masih menjadi faktor yang membuat fundamental emas kokoh.

Faktor-faktor di atas membuat analis optimis bahwa harga emas akan kembali melesat dan menembus level psikologis US$ 2.000/troy ons yang sempat ditembusnya awal Agustus lalu.

"Dolar memantul dari posisi terendah dan kami melihat beberapa aksi jual emas, tetapi ini bersifat sementara, komentar dovish dari pertemuan Fed dan penjelasan lebih lanjut tentang target inflasi baru mereka dapat mendorong emas di atas US$ 2.000," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures, melansir Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading