Emas Memang Gila, Tapi Cuan 5 Saham Ini Lebih Edan!

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
28 July 2020 14:08
Emas Antam (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emas memang masih menjadi primadona di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi global karena statusnya sebagai safe haven alias aset yang tergolong aman. Lihat saja harganya yang terus membubung tinggi dan berhasil memecahkan rekor harga tertinggi sepanjang masa setelah perekonomian global digerogoti oleh virus corona.

Berdasarkan data Refinitiv, emas pada hari ini berhasil melesat 0,52% ke US$ 1.951,45/troy ons, yang mematahkan rekor tertinggi sepanjang masa sebelumnya US$ 1.920,3/troy ons yang dicetak nyaris 9 tahun yang lalu, tepatnya pada 6 September 2011.

Sedangkan harga emas Antam juga berhasil naik Rp 25.000 menjadi Rp 964.120/gram untuk emas kepingan 100 gram yang lumrah dijadikan acuan. Sedangkan untuk kepingan 1 gram berada di Rp 1.022.000/gram berhasil menembus level 1 juta per gram.


Jika mengacu pada harga akhir tahun Rp 713.0000/gram ke level hari ini Rp 964.120/gram, maka emas Antam year to date, naik 35,22% atau Rp 251.000/gram.

Akan tetapi meskipun harga emas sudah naik gila-gilaan selama setahun terakhir, di bursa saham ada banyak saham yang relinya lebih kencang dari emas secara tahun berjalan, saham apakah yang dimaksud? Simak tabel berikut.

5 Saham dengan Cuan Tertinggi YTD

Berdasarkan data BEI per sesi II, Selasa ini 28/7/2020), dapat dilihat ternyata PT Bank Jago Tbk (ARTO) adalah saham dengan apresiasi harga terbesar selama tahun berjalan dengan kenaikan sebesar 500%.

Bank digital yang dikabarkan disokong Gojek ini bahkan berhasil terparesiasi jauh melebihi harga emas Antam selama tahun berjalan.

Bank yang dulunya bernama PT Bank Artos Indonesia Tbk ini dulunya milik Keluarga Arto Hardy yang kemudian diambilalih bos Northstar Patrick Walujo dan eks bankir BTPN yakni Jerry Ng di tahun lalu.

Sedangkan di posisi kedua ada emiten farmasi PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) yang berhasil terapresiasi 455% secara year to date (YTD).

Kenaikan ini setelah para pelaku pasar merespons kabar bahwa PT Pyridam Internasional telah mengalihkan statusnya sebagai pengendali PYFA kepada Rejuve Global Investment Pte Ltd. Pengalihan ini sendiri disertai dengan transaksi saham sebesar Rp222,14 miliar pada Senin (20/7/2020) lalu.

Sekretaris Perusahaan Pyridam Farma Ryan Arvin Sutikno melaporkan Pyridam Internasional (PYI), Rejuve Global Investment (RGI), dan PT Starindo Kencana Sejahtera (SKS) telah menyelesaikan transaksi atau closing jual beli saham di Pyridam Farma (PYFA).

"Atas pelaksanaan transaksi tersebut, RGI menjadi pemegang saham pengendali baru perseroan," ujarnya melalui keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (22/7/2020).

Di posisi ketiga terdapat anak usaha Bio Farma, PT Indofarma Tbk (INAF) yang berhasil reli 179% selama setahun terakhir. Kenaikan saham INAF terjadi setelah kabar bahwa vaksin Sinovac telah tiba di Indonesia dan anak usaha Bio Farma nantinya akan menjadi distributor vaksin tersebut.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengkonfirmasi bahwa kandidat vaksin Covid-19 dari Sinovac Biotech sudah tiba di Indonesia dan sekarang dalam proses uji klinis tahap tiga di Bio Farma.

Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Thohir mengatakan uji vaksin Covid-19 hampir final dan siap edar di Indonesia pada awal 202I. Namun ia meminta masyarakat tetap disiplin.

Sementara itu Presiden Joko Widodo (Jokowi) Selasa lalu (21/7/2020) menerima tim uji klinis vaksin Covid-19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bio Farma dan Badan Pegawas Obat dan Makanan (BPOM) di Istana Merdeka.

Dalam pertemuan tersebut Jokowi mengatakan Indonesia akan melakukan uji klinis vaksin Covid-19 tahap tiga dengan melibatkan 1.630 sukarelawan dan hasilnya nanti akan dibandingkan dengan hasil uji klinis yang sama di berbagai negara.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading