China Pegang Surat Utang AS Rp 14.400 T, Mau 'Buang' Berapa?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 July 2020 12:57
U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this picture illustration taken May 3, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Dedolarisasi atau mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menggema di China. Aksi 'buang dolar" bukan hal yang baru, China sudah cukup lama melakukannya.. Sebabnya, perang dagang dengan AS yang berlarut-larut.

'Buang dolar' dikatakan sebagai senjata pamungkas China dalam menghadapi AS di bidang ekonomi. Maklum saja, China merupakan negara pemegang obligasi pemerintah AS terbesar di dunia pada tahun lalu.

Isu 'buang dolar' sempat meredup pada penghujung 2019, saat kedua negara mencapai kesepakatan dagang fase I yang akhirnya ditandatangani pada Januari lalu. Namun, isu tersebut kembali muncul belakangan ini akibat memburuknya hubungan kedua negara. 


Berdasarkan data Kementerian Keuangan AS, pada akhir April 2020, nilai obligasi pemerintah Negeri Paman Sam yang dimiliki China sebesar US$ 1,07 triliun atau sekitar Rp 14.400 triliun (kurs Rp 14.400/US$), atau sekitar 15,8%. Nilai tersebut juga setara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Namun jika dilihat ke belakangan, kepemilikan China terus menurun. Pada April 2011 nilainya sebesar US$ 1,11 triliun, artinya berkurang sekitar US$ 40 miliar (Rp 576 triliun) dalam tempo 1 tahun.

Pada April tahun lalu, China masih menjadi negara pemegang obligasi pemerintah AS terbesar di dunia, tetapi posisi tersebut kini disabet oleh Jepang sejak Juni 2019. Pada April 2020, jumlah Treasury yang dimiliki Jepang sebanyak US$ 1,27 triliun atau sekitar 18,7%.

Pemegang obligasi pemerintah AS terbanyak ketiga di dunia adalah Inggris, nilainya sebesar US$ 368,5 miliar, tentunya cukup jauh ketimbang jumlah yang dimiliki China dan Jepang.

Hubungan dengan AS Memburuk, China Naikkan Pamor Yuan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading