Stok AS Berkurang Banyak, Harga Minyak Bergerak Naik

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
01 July 2020 09:43
FILE PHOTO: Oil pours out of a spout from Edwin Drake's original 1859 well that launched the modern petroleum industry at the Drake Well Museum and Park in Titusville, Pennsylvania U.S., October 5, 2017. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo Foto: Ilustrasi: Minyak mengalir keluar dari semburan dari sumur 1859 asli Edwin Drake yang meluncurkan industri perminyakan modern di Museum dan Taman Drake Well di Titusville, Pennsylvania AS, 5 Oktober 2017. REUTERS / Brendan McDermid / File Foto

Jakarta, CNBC Indonesia - Rilis data perminyakan oleh asosiasi industri (API) Negeri Paman Sam direspons positif oleh pasar. Pada Rabu (1/7/2020) pagi harga minyak mentah untuk kontrak yang ramai diperjualbelikan mengalami penguatan.

Pada 08.50 WIB harga minyak mentah berjangka Brent naik 1,39% ke US$ 41,72/barel. Di saat yang sama harga minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS) yakni West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,32% ke US$ 39,79/barel.


Kenaikan harga terjadi setelah API merilis data yang menunjukkan bahwa stok minyak mentah dan bensin AS untuk periode pekan lalu mengalami penurunan. Stok minyak mentah AS anjlok signifikan sebesar 8,2 juta barel menjadi 537 juta barel pada pekan lalu. 

Turunnya stok minyak mentah AS tersebut jauh di luar dugaan atau konsensus pasar yang memperkirakan penurunan stok hanya akan sebesar 710 ribu barel saja. Tentu ini membuat pasar menjadi semakin optimis. 

"Jika data API sesuai dengan data resmi agensi pemerintah yang akan dirilis besok, ini akan menjadi sinyal bullish yang nyata" kata Stephen Innes, chief global markets strategist di AxiCorp.

Namun menurut para analis, kenaikan harga kemungkinan masih akan terhambat lantaran permintaan bahan bakar global anjlok hampir sepertiga dari keadaan normal akibat dihentikannya aktivitas ekonomi melalui lockdown di banyak negara untuk menekan penyebaran virus corona.

Survei yang dilakukan Reuters terhadap para analis mengindikasikan bahwa harga minyak akan terkonsolidasi di sekitar US$ 40/barel tahun ini dengan potensi untuk naik pada kuartal keempat.

Saat ini pelaku pasar juga tengah mencermati perkembangan terbaru pandemi Covid-19 yang telah menginfeksi lebih dari 10 juta orang di dunia dan menelan korban jiwa lebih dari 500 ribu orang secara global.

AS sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak di dunia juga mengalami lonjakan kasus di atas 40 ribu per hari dalam beberapa waktu terakhir. Penasihat Kesehatan Gedung Putih Dr. Anthony Fauci memperingatkan kasus di AS bisa menjadi tidak terkontrol dan angkanya bisa melonjak ke 100 ribu kasus per hari.

Lonjakan kasus yang terjadi telah membuat banyak negara bagian mempertimbangkan ulang opsi untuk melakukan relaksasi lockdown dan pembukaan ekonominya. Sementara itu di Beijing dan Leicester, lockdown lokal kembali diterapkan menyusul terjadinya peningkatan kasus.

Jika lockdown kembali diterapkan secara masif, maka permintaan terhadap bahan bakar yang digadang-gadang akan ikut pulih seiring dengan pembukaan ekonomi hanya akan jadi impian belaka. Harga minyak terancam anjlok lagi jika itu terjadi. 

Sampai dengan saat ini faktor yang membuat harga emas hitam cenderung stabil di US$ 40/barel adalah upaya para produsen seperti Arab Saudi, Rusia dan koleganya yang tergabung dalam OPEC+ untuk memangkas output sebanyak 9,7 juta barel per hari (bpd) atau setara dengan hampir 10% dari total output hingga Juli nanti.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Saksikan video terkait di bawah ini:

SEA: Pentingnya Mendorong Bisnis UMKM Lewat Digitalisasi


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading