Rupiah Jaya, Kurs Poundsterling Kembali ke Bawah Rp 18.000

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
29 May 2020 18:49
FILE PHOTO: Pound Sterling notes and change are seen inside a cash resgister, Septem,ber 21, 2018. REUTERS/Phil Noble/File Photo
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar poundsterling melemah melawan rupiah pada perdagangan Jumat (29/5/2020) hingga kembali ke bawah Rp 18.000/GBP. Tetapi, melawan dolar Amerika Serikat (AS), poundsterling justru mampu menguat. Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah memang sedang perkasa pada hari ini.

Pada pukul 17:56 WIB, GBP 1 setara Rp 17.972,43, poundsterling melemah 0,58% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sementara melawan dolar AS, mata uang negeri Ratu Elizabeth ini menguat 0,12% ke US$ 1,2331.

Rupiah sedang dinaungi sentimen positif setelah Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam paparan Perkembangan Ekonomi Terkini kemarin mengatakan nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan ke depannya akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya, kembali ke level sebelum pandemi penyakit virus corona (Covid-19) terjadi di kisaran Rp 13.600-13.800/US$.


"Ke depan nilai tukar rupiah akan menguat ke fundamentalnya. Fundamental diukur dari inflasi yang rendah, current account deficit (CAD) yang lebih rendah, itu akan menopang penguatan rupiah. Aliran modal asing yang masuk ke SBN (Surat Berharga Negara) juga memperkuat nilai tukar rupiah" kata Perry, Kamis (28/5/2020).



"Kami yakin nilai tukar rupiah masih undervalue, dan berpeluang terus menguat ke arah fundamentalnya," tegas Perry.

Pernyataan Perry tersebut berbeda dengan sebelumnya yang mengatakan rupiah akan berada di kisaran Rp 15.000/US$ di akhir tahun. Rupiah kini disebut akan menguat ke nilai fundamentalnya, sehingga memberikan dampak psikologis ke pasar jika Mata Uang Garuda masih berpeluang menguat lebih jauh.

Efeknya rupiah hari ini menguat 0,68% ke Rp 14.575/US$ yang merupakan level terkuat sejak 12 Maret. Tidak hanya dolar AS, poundsterling juga ikut terpukul oleh rupiah hari ini.

Di sisi lain, poundsterling sedang dihantui isu suku bunga negatif di Inggris yang berhembus sejak Wakil Gubernur BoE, Ben Broadbent, pada pertengahan Mei mengatakan ada kemungkinan suku bunga negatif akan diterapkan saat rapat dewan gubernur selanjutnya.

"Para komite pembuat kebijakan (Monetary Policy Committee/MPC) siap melakukan apapun yang diperlukan karena risiko kemerosotan ekonomi masih ada," kata Broadbent sebagaimana dilansir CNBC International. "Ya, sangat mungkin pelonggaran moneter (suku bunga negatif) diperlukan saat itu," ujarnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA 
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading