Analisis Teknikal

Sudah Melesat 10%, Rupiah Masih Bisa Menguat Pekan Depan?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
24 May 2020 20:36
Ilustrasi Rupiah dan Dolar di Bank Mandiri
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menguat lebih dari 1% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.680/US$ di pekan ini, dan berada di level terkuat sejak 13 Maret. Perdagangan di pekan ini terbilang pendek, hanya tiga kali, Senin-Rabu, dan rupiah mampu menyapu bersih semua perdagangan.

Rupiah sebenarnya sudah dalam tren menguat sejak awal April, total penguatan yang dibukukan nyaris 10% hingga perdagangan Rabu (20/5/2020) lalu.

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR rupiah berhasil menembus di bawah Fibonnaci Retracement 61,8% di kisaran Rp 14.730/US$.


Fibonnaci Retracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13.565/US$) lalu, hingga ke posisi tertinggi intraday 23 Maret (Rp 16.620/US$).
Jika mampu bertahan di bawah Fib. Retracement 61,8% tersebut, rupiah berpeluang menguat lebih jauh ke Rp 15.510/US$ pada pekan depan.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian (doc. Refinitiv)



Sementara itu melihat indikator stochastic pada grafik harian masih berada di level jenuh jual (oversold) dalam waktu yang cukup lama, risiko koreksi rupiah cukup besar jika kembali bergerak dan tertahan di atas Fib. Retracement 61,8%.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah oversold (di atas bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik naik. Dalam hal ini, USD/IDR berpeluang naik, yang artinya dolar AS berpeluang menguat setelah stochastic mencapai oversold.

Jika kembali ke atas Rp 14.730/US$, rupiah berisiko melemah ke Rp 14.900 hingga 15.000/US$.

Resisten (tahanan atas) yang kuat berada di kisaran Rp 15.090 -15.100/US$ yang merupakan Fibonnaci Retracement 50%. Resisten tersebut 2 kali sukses menahan pelemahan rupiah.

Selama tertahan di bawah Fib. 50% tersebut, ke depannya peluang penguatan rupiah masih terbuka.


Secara fundamental, rupiah sebenarnya berisiko tertekan akibat ketegangan Amerika Serikat (AS) dengan China. Panasnya hubungan kedua negara bisa menbuat sentimen pelaku pasar memburuk dan memicu aksi ambil untung (profit taking) mengingat rupiah sudah menguat nyaris 10% sejak April.

Memanasnya hubungan China dengan AS terjadi akibat Presiden Donald Trump mendesak agar China bertanggung jawab atas terjadinya pandemi Covid-19 yang membuat perekonomian AS bahkan global merosot menuju jurang resesi.

"Kami punya banyak informasi, dan itu tidak bagus. Apakah (virus corona) datang dari laboratorium atau dari kelelawar, pokoknya berasal dari China. Mereka semestinya bisa menghentikan itu dari sumbernya," kata Trump dalam wawancara dengan Fox Business Network, seperti dikutip dari Reuters.

Beredar kabar pemerintahan Trump akan membuat Undang-undang (UU) yang mengharuskan China bertanggung jawab atas penyebaran virus corona. Seorang anggota Senat AS mengungkapkan, pemerintah sedang mematangkan Rancangan Undang-undang Pertanggungjawaban Covid-19 (Covid-19 Accountability Act).

Hubungan keduanya semakin memburuk setelah AS kembali mencampuri urusan dalam negeri China.

Pemerintahan Presiden China, Xi Jinping, berencana memberlakukan UU keamanan baru di wilayah administratif Hong Kong karena tahun lalu terjadi instabilitas akibat aksi demonstrasi selama berbulan-bulan.

"AS mengutuk rencana sepihak UU keamanan nasional di Hong Kong. AS mendesak Beijing agar mengkaji ulang proposal yang mengerikan ini dengan memperhatikan tanggung jawab dan menghormati otonomi serta institusi demokrasi Hong Kong," kata Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS, seperti diberitakan Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA 




(pap/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading