Analisis Teknikal

Rupiah Bisa Menguat Lagi, Walau Terbatas di Rp 14.800/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 May 2020 08:39
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali membukukan penguatan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (14/5/2020) kemarin, meski menghabiskan mayoritas hari di zona merah.

Rupiah bahkan menjadi mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia, meski cuma menguat 0,07% di Rp 14.840/US$, dan hanya kalah dari yen Jepang yang menyandang status safe haven.

Sentimen pelaku pasar yang kembali memburuk membuat mata uang safe haven seperti dolar AS dan yen kembali berjaya kemarin. Sebabnya, ketua Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell, memberikan outlook yang agak suram terkait ekonomi Paman Sam, yang diprediksi membutuhkan waktu lama untuk bangkit.


"Akan butuh waktu untuk kembali seperti sebelum sekarang. Pemulihan kemungkinan akan terjadi dalam tempo yang lebih lebih lambat dari perkiraan," kata Powell dalam paparan di hadapan Kongres AS secara virtual, Rabu pagi waktu setempat.



Fakta rupiah mampu menguat, meski tipis, saat sentimen pelaku pasar sedang memburuk tentunya menjadi kabar bagus. Hal tersebut bisa memberikan gambaran tingkat kepercayaan pelaku pasar global terhadap aset-aset Indonesia mulai membaik di tengah pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Hari ini, Jumat (15/5/2020) rupiah berpeluang kembali menguat jika melihat sentimen pelaku pasar yang cukup bagus, tercermin dari penguatan bursa saham AS (Wall Street) Rabu waktu setempat, dan bursa Asia pagi ini.

Meski demikian, penguatan rupiah sepertinya masih akan terbatas, sebabnya posisi saat ini sudah agak jauh dari level Rp 15.000/US$. Bank Indonesia (BI) mengatakan di akhir tahun rupiah akan berada di level tersebut di akhir tahun. Pernyataan BI tersebut tentunya memberikan dampak psikologis di pasar "rupiah tidak akan menguat lebih jauh", sehingga perlu tenaga ekstra atau momentum yang besar agar rupiah mampu menguat tajam lagi.

Analisis Teknikal
Rupiah atau yang disimbolkan USD/IDR masih tertahan di atas support (tahanan bawah) berada di kisaran Rp 14.835-14.800/US$.
Peluang penguatan rupiah hari ini masih di kisaran support tersebut.

Melihat indikator stochastic pada grafik harian masih berada di level jenuh jual (oversold) dalam waktu yang cukup lama, risiko koreksi rupiah cukup besar selama tertahan di atas support tersebut.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah oversold (di atas bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik naik. Dalam hal ini, USD/IDR berpeluang naik, yang artinya dolar AS berpeluang menguat setelah stochastic mencapai oversold.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv



Selama tertahan di atas support, Mata Uang Garuda berisiko terkoreksi ke Rp 14.930/US$, jika dilewati maka rupiah akan menuju level psikologis Rp 15.000/US$.

Sebaliknya jika support Rp 14.835-14.800/US$ hari ini berhasil ditembus, rupiah berpotensi menguat menuju Rp 14.730/US$ yang merupakan Fibonnaci Retracement 61,8%.

Resisten (tahanan atas) yang kuat berada di kisaran Rp 15.090 -15.100/US$ yang merupakan Fibonnaci Retracement 50%. Resisten tersebut sukses menahan pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa dan Rabu lalu.

Fibonnaci Retracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13.565/US$) lalu, hingga ke posisi tertinggi intraday 23 Maret (Rp 16.620/US$).
Selama tertahan di bawah Fib. 50% tersebut, ke depannya peluang penguatan rupiah masih terbuka.

TIM RISET CNBC INDONESIA 
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading