Analisis Teknikal

Dolar AS Diterpa Isu Suku Bunga Negatif, Rupiah Siap Menguat?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
13 May 2020 08:31
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2020) kemarin, bahkan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia meski hanya melemah 0,2% di Rp 14.880/US$.

Sentimen pelaku pasar global yang memburuk akibat munculnya risiko penyebaran pandemi virus corona (Covid-19) gelombang kedua membuat rupiah tertekan. Risiko tersebut muncul akibat pelonggaran kebijakan karantina wilayah (lockdown) maupun social distancing.

China dan Korea Selatan yang sebelumnya sudah "menang" melawan virus corona kini harus kembali siaga akibat adanya penambahan kasus baru. Pemerintah China mengambil langkah tegas dengan menerapkan lockdown di Kota Shulan, Provinsi Jilin.


Perhatian juga tertuju ke Eropa dan Amerika Serikat yang mulai melonggarkan lockdown, apakah terjadi peningkatan kasus atau masih tetap dalam tren menurun.



Selain itu dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) kemarin melaporkan penjualan ritel pada Maret 2020 turun 4,5% year-on-year (yoy). Pada April, penjualan ritel diperkirakan turun lebih dalam, 11,8%.

Sentimen negatif dari luar dan dalam negeri tersebut membuat rupiah akhirnya melemah kemarin. Tetapi hari ini, Rabu (13/5/2020) ada peluang rupiah kembali menguat. Dolar AS sedang tertekan akibat isu suku bunga negatif.

Presiden AS, Donald Trump, melalui akun twitternya sekali lagi mendorong bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menerapkan suku bunga negatif.

"Selama negara lain mendapat keuntungan dalam menerapkan suku bunga negatif, Amerika Serikat seharusnya juga menerima "Hadiah". Jumlah yang besar!" ciut Trump.

Data Bank of America Securities menyebutkan bahwa ada peluang 23% suku bunga acuan AS bisa di bawah 0% pada akhir tahun ini. Pekan lalu, peluangnya masih 10%.

Ketua The Fed, Jerome Powell, akan berpidato di hadapan Kongres AS malam ini, dolar AS kemungkinan masih berada dalam mode "defensif" menanti pidato tersebut, dan bisa dimanfaatkan rupiah untuk kembali menguat.



Analisis Teknikal
Rupiah atau yang disimbolkan USD/IDR masih bertahan di bawah level Rp 14.930/US$ yang menjadi resisten (tahanan atas terdekat). Sementara support (tahanan bawah) berada di kisaran Rp 14.835-14.800/US$, dan peluang penguatan ke area tersebut hari ini masih cukup terbuka.

Sebaliknya jika support Rp 14.835-14.800/US$ hari ini berhasil ditembus, rupiah berpotensi menguat menuju Rp 14.730/US$ yang merupakan Fibonnaci Retracement 61,8%.

Namun, melihat indikator stochastic pada grafik harian masih berada di level jenuh jual (oversold) dalam waktu yang cukup lama, risiko koreksi rupiah cukup besar.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv



Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah oversold (di atas bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik naik. Dalam hal ini, USD/IDR berpeluang naik, yang artinya dolar AS berpeluang menguat setelah stochastic mencapai oversold.

Selama tertahan di atas support, Mata Uang Garuda berisiko terkoreksi ke Rp 14.930/US$, jika dilewati maka rupiah akan menuju level psikologis Rp 15.000/US$.

Resisten (tahanan atas) yang kuat berada di kisaran Rp 15.090 -15.100/US$ yang merupakan Fibonnaci Retracement 50%. Resisten tersebut sukses menahan pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa dan Rabu lalu.

Fibonnaci Retracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13.565/US$) lalu, hingga ke posisi tertinggi intraday 23 Maret (Rp 16.620/US$).
Selama tertahan di bawah Fib. 50% tersebut, ke depannya peluang penguatan rupiah masih terbuka.


TIM RISET CNBC INDONESIA 
(pap/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading