Harga Kontrak WTI Juni Ikut Jeblok, Wall Street Dibuka Anjlok

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
21 April 2020 21:07
Smartsheet Inc. President and CEO Mark Mader attends his company's IPO on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., April 27, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka terpelanting pada pembukaan perdagangan Selasa (21/4/2020) menyusul gonjang-ganjing harga minyak mentah dunia. Setelah kontrak Mei anjlok hingga minus, giliran kontrak Juni yang tertekan hingga 

Indeks Dow Jones Industrial Average tergerus 510 poin pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), dan selang 20 menit kemudian surut menjadi 477,06 poin (-2,02%) ke 23.173,38. Indeks Nasdaq turun 151,18 poin (-1,77%) ke 8.409,55 dan S&P 500 tertekan 51,17 poin (-1,81%) ke 2.771,99.

Pasar memantau harga minyak yang bergerak gila-gilaan pada Senin setelah permintaan dunia anjlok akibat kebijakan pembatasan sosial (lockdown) yang diterapkan di berbagai negara, sementara kapasitas penampung minyak dikhawatirkan kian terbatas.


"Jika kita masih perlu pengingat sebesar apa penurunan tiba-tiba aktivitas ekonomi dunia, jawabannya adalah fakta bahwa kontrak berjangka minyak WTI harganya menjadi negatif," tutur Tom Lee, Kepala Riset Fundstrat Global Adivsors, dalam laporan risetnya, sebagaimana dikutip CNBC International.

Harga kontrak berjangka (futures) minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Mei anjlok di bawah nol untuk pertama kali pada Senin. Terakhir, harga kontrak WTI tercatat negatif yang berarti produsen akan membayar siapapun untuk membawa produk mereka.

Kontrak tersebut jatuh tempo hari ini, sehingga pemegang kontrak bakal menerima barang yang telah dibeli lewat transaksi berjangka itu. Di tengah permintaan minyak yang anjlok, para investor di bursa berjangka (terutama pemilik kilang) pun berebut melepas kontrak alias menghindari penyerahan barang tersebut.

Jika menerima barang yang dibeli di bursa berjangka tersebut, mereka bakal menanggung beban penyimpanan (untuk pengepul) atau beban pengolahan (untuk pemilik kilang) dan merugi karena minyak yang dimilikinya itu bakal teronggok percuma di pasar fisik.

Namun, kontrak futures minyak WTI untuk pengiriman Juni yang semula naik 3,23% menjadi US$ 21,09 per barel pada pagi (WIB), malam ini juga tertekan hingga 29% menjadi US$ 14,56 per barel.  Saham emiten migas seperti Exxon drop 2,8%, sedangkan saham Chevron anjlok lebih parah (4,6%).

Namun, Tom menilai minyak adalah isu sampingan dari fenomena lockdown dan situasi ini tidak bakal berubah hingga negara-negara maju membuka kembali perekonomiannya. "Dan mereka tak bisa membuka ekonominya hingga tiap wilayah yakin sudah mengatasi krisis kesehatan ini."

Saham lain juga ikut tertekan seperti IBM (-6,1%), menyusul penurunan pendapatan kuartal I-2020 sebesar 3,4%.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading