Sambut Kabar Obat Corona, Wall Street Dibuka Melesat 600 Poin

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
17 April 2020 20:52
Smartsheet Inc. President and CEO Mark Mader rings a ceremonial bell to celebrate his company's IPO on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., April 27, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS)  menguat 600 poin di pembukaan perdagangan Jumat (17/4/2020), menyambut laporan bahwa obat perusahaan farmasi asal AS, Gilead Sciences terbukti efektif mengobati pasien COVID-19.

Indeks Dow Jones Industrial Average loncat 600 poin (+2%) pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), dan 15 menit kemudian agak berkurang dengan reli 519,26 poin (+2,21%) ke 24.056,94. Indeks Nasdaq menguat 91,71 poin (+1,07%) ke 8.624,07  dan S&P 500 tumbuh 54,56 poin (+1,95%) ke 2.854,11.

Investor kian optimistis dengan prospek penghentian penyebaran virus Corona strain baru setelah Gedung Putih berencana membuka kembali ekonomi dari pembatasan (lockdown), dan Boeing bakal membuka kembali fasilitas produksinya.


Saham Gilead melonjak lebih dari 10% menyambut kabar rumah sakit Chicago merilis laporan bahwa terapi pasien COVID-19 dengan obat Remdesivir, produksi emiten tersebut, menunjukkan hasil yang memuaskan karena membantu pemulihan pasien secara cepat.

"Pengobatan yang efektif adalah hal besar dan bakal menciptakan jalur pembukaan ekonomi dan kembali normalnya aktivitas sosial lebih cepat daripada vaksin," tutur Tom Lee, Kepala Rset Fundstrat Global Advisors.

Studi lain menyebutkan bahwa Remdesivir bisa mengobati virus corona, tetapi dalam skala yang lebih ringan. Namun Gilead sendiri belum resmi mengumumkan bahwa obat produknya itu merupakan obat yang efektif untuk virus corona strain baru tersebut.

Bursa saham AS terhitung bergerak ke Utara sejak 23 Maret setelah temuan pasien baru COVID-19 melandai. Indeks S&P 500 telah melompat lebih dari 25% sedangkan Dow Jones melesat 26,6%. 

Sejauh ini, virus corona strain baru tersebut telah menginfeksi 2 juta orang, dan 650.000 di antaranya adalah kasus di AS. Wabah ini juga memicu kenaikan pengangguran. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan ada 22 juta orang warga AS yang kehilangan pekerjaan selama lockdown berlangsung.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading